Jumat, 15 Oktober 2021
Amalan Ketika Khataman 30 Juz Al-Quran | Konsultasi Syari'ah & Fiqih (KASYAF) | Bahtsul Masail Taujih Tarjih Fatwa Khuthbah
Gawat! Kita Harus Punya Kendaraan Melintas Shirath | Konsultasi Syari'ah & Fiqih (KASYAF) | Bahtsul Masail Taujih Tarjih Fatwa Khutbah
Kamis, 09 September 2021
Sikap Tepat Terhadap Kitab Suci Selain Al-Quran dan Kisah Israiliyyat | KASYAF (Konsultasi Syariah & Fiqih) | UBER (Ust. H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.)
KASYAF (Konsultasi Syari'ah & Fiqih) No.
*395 - Sikap Tepat Terhadap Kitab Suci Selain Islam dan Kisah Israiliyyat*
๐ง ๐จ ๐ถ ๐บ ๐ซ ๐ฎ
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
_Pertanyaan_
๐ Bolehkah kita mensalah2 kan kitab orng yahudi dan nasrani. Katanya, Di larang di baca karna berbahaya, khawatir benar nnti d salahkan Dan salah di benarkan. Klo menyalah2kan keyakinan mereka tadz?
๐ Ditanyakan oleh Bapak *E. S.* (+62 822-8763-3259) dari Purworejo pada _22 Maret 2021_ via WhatsApp tanpa editing
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
_Jawaban_
๐ช Allah Al-Haqq hanya menurunkan wahyu-Nya dalam dua bentuk yang bisa dipegang oleh manusia setelah dicatat oleh manusia dalam bentuk tulisan yaitu bentuk shuhuf dan kitab. Shuhuf artinya lembaran, kitab artinya buku. Allah hanya menurunkan empat kitab yaitu Zabur, Taurat, Injil dan Al-Quran. Semuanya disebut Al-Kitab. Adapun shuhuf yang tercatat resmi oleh hadits atau atsar, diturunkan-Nya kepada Nabi Syits bin Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Ibrahim bin Azar, Nabi Dawud, dan Nabi Musa.
๐ Zabur turun kepada Nabi Dawud. Taurat diturunkan Allah kepada Nabi Musa dan juga menjadi kitab suci nabi-nabi setelahnya diantaranya Nabi Harun dan Nabi Yahya bin Zakariyya. Hingga diutuslah Nabi Isa dengan Injil, dan Injil itu sebagai pembenar bagi Taurat. Hingga diutuslah Nabi Muhammad dengan Al-Qur'an, dan Al-Qur'an diposisikan oleh Allah sebagai pembenar (mushaddiq) dan batu ujian/verifikator (muhaimin) terhadap kitab-kitab yang lain yaitu Zabur, Taurat dan Injil yang jelas-jelas terkontaminasi isinya oleh manusia-manusia kotor. *[QS. Al-Maidah (5): 48 dan QS. Ali 'Imran (3): 3 dan QS. An-Nahl (16): 63-64]*
๐ฅ Maka apapun informasi yang kita dapatkan dari Zabur, Taurat dan Injil harus dikonfrontasikan dalam artian ditimbang-timbang dengan apa yang ada dalam Al-Quran, tidak boleh sebaliknya. Apa yang dalam Zabur, Taurat, Injil dibenarkan oleh Al-Quran maka harus kita yakini kebenarannya, jangan disalah-salahkan. Begitupun sebaliknya. Masalahnya, Zabur, Taurat dan Injil rawan dan telah diselewengkan sebagian besar isinya secara teks oleh orang-orang jahat, dan kita tidak bisa mengakses yang otentik karena tidak diriwayatkan secara turun-temurun dan bersambung.
๐ต Hanya Zabur, Taurat dan Injil serta Al-Quran yang merupakan kitab suci samawi. Selain keempatnya adalah kitab suci ardhi artinya gubahan/susunan manusia, bukan dari Allah, Satu-satunya Tuhan yang benar. Contoh kitab suci ardhi adalah kitab suci para ahli sihir yang masih diamalkan hingga hari ini, kitab suci tersebut disusun oleh para jin syaithani pada masa Nabi Sulaiman bin Dawud, ketika Nabi Sulaiman wafat, kitab suci tersebut ditemukan oleh umatnya di bawah kursi kerajaannya, dan para jin syaithani lah yang menyimpannya di situ untuk menciptakan framing bahwa Sulaiman adalah ahli sihir. Sayangnya, Zabur, Taurat dan Injil yang semula merupakan kitab suci samawi, kini tidak 100 % murni dari Allah, tapi sudah dikontaminasi dengan kalimat-kalimat dari periwayatnya. Ini kami terangkan dalam Mushaf Terjemah At-Tadabbur yang kami susun dan terbitkan
๐ฉ Terus terang, kami berkali-kali terheran-heran dengan sikap sebagian muslim yang pernah kami temui, yang berlagak faqih (paham agama) dengan sibuk membolak-balik lembaran-lembaran Zabur, Taurat dan Injil yang masih diterbitkan sampai hari ini, sekali lagi padahal tidak otentik, sementara mereka tertangkap basah tidak antusias membaca apalagi mempelajari tafsir apalagi menghapal Al-Quran. Bahkan di play store sampai ada aplikasi TZI (Taurat, Zabur, Injil).
๐ Kita dilarang membaca apalagi mempelajari TZI ketika kita punya iman dan ilmu syar'i yang lemah. Bila ilmu syar'i kita sudah kuat, minimal hapal dan bisa menerjemahkan Al-Quran, maka boleh kita membaca TZI dalam rangka komparasi guna menguatkan iman terhadap kebenaran Al-Quran, bukan untuk mencari pembenaran atas penyalahan terhadap Al-Quran.
ุนَْู ุฌَุงุจِุฑِ ุจِْู ุนَุจْุฏِ ุงَّููู ุฃََّู ุนُู َุฑَ ุจَْู ุงْูุฎَุทَّุงุจِ ุฃَุชَู ุงَّููุจَِّู ุจِِูุชَุงุจٍ ุฃَุตَุงุจَُู ู ِْู ุจَุนْุถِ ุฃَِْูู ุงُْููุชُุจِ ََููุฑَุฃَُู ุงَّููุจُِّู َูุบَุถِุจَ ََููุงَู: ุฃَู ُุชَََُِّููููู َِูููุง َูุง ุงุจَْู ุงْูุฎَุทَّุงุจِ، َูุงَّูุฐِู َْููุณِู ุจَِูุฏِِู ََููุฏْ ุฌِุฆْุชُُูู ْ ุจَِูุง ุจَْูุถَุงุกَ ََِّูููุฉً َูุง ุชَุณْุฃَُُูููู ْ ุนَْู ุดَْูุกٍ َُููุฎْุจِุฑُُููู ْ ุจِุญٍَّู َูุชَُูุฐِّุจُูุง ุจِِู ุฃَْู ุจِุจَุงุทٍِู َูุชُุตَุฏُِّููุง ุจِِู، َูุงَّูุฐِู َْููุณِู ุจَِูุฏِِู َْูู ุฃََّู ู ُูุณَู َูุงَู ุญًَّูุง ู َุง َูุณِุนَُู ุฅَِّูุง ุฃَْู َูุชَّุจِุนَِูู
๐ Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Suatu saat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa sebuah kitab yang ia dapatkan dari sebagian Ahli Kitab. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya. Beliau kemudian marah dan bersabda, _“Apakah engkau termasuk orang yang bingung, wahai putra Al-Khaththab? Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang putih bersih. Jangan kalian bertanya sesuatu kepada mereka (Ahlul Kitab) karena (boleh jadi) mereka mengabarkan al-haqq kepada kalian namun kalian mendustakan al-haqq tersebut, atau mereka mengabarkan satu kebatilan lalu kalian membenarkan kebatilan tersebut. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalam masih hidup niscaya tidak diperkenan baginya melainkan dia harus mengikutiku.”_ *[Musnad Ahmad no. 14623]*
๐ Jadi, sikap terhadap isi TZI adalah tidak kita percayai 100 % tidak pula kita dustakan 100 %, hanya kita benarkan jika benar menurut Al-Quran dan As-Sunnah, kita salahkan jika salah menurut Al-Quran dan As-Sunnah.
ุนَْู ุฃَุจِู ُูุฑَْูุฑَุฉَ َูุงَู: َูุงَู ุฃَُْูู ุงِْููุชَุงุจِ َْููุฑَุกَُูู ุงูุชَّْูุฑَุงุฉَ ุจِุงْูุนِุจْุฑَุงَِّููุฉِ ََُูููุณِّุฑََُูููุง ุจِุงْูุนَุฑَุจَِّูุฉِ ِูุฃَِْูู ุงْูุฅِุณَْูุงู ِ ََููุงَู ุฑَุณُُูู ุงِููู: َูุง ุชُุตِุฏُِّููุง ุฃََْูู ุงِْููุชَุงุจَ ََููุง ุชَُูุฐِّุจُُููู ْ، َُُูููููุง: ุขู ََّูุง ุจِุงِููู َูู َุง ุฃُْูุฒَِู ุงْูุขَูุฉُ
๐ Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma beliau berkata, “Dahulu Ahlul kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan mereka tafsirkan dengan bahasa Arab kepada ahlul Islam (muslimin).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Jangan kalian percayai mereka jangan pula kalian dustakan namun katakanlah (seperti dalam ayat), Katakanlah (hai orang-orang mukmin), ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’kub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabbnya. Kami tidakmembeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’ (QS. Al-Baqarah (2): 136)”_ *[Fat-h Al-Bari 5/291 dan 8/170); As-Sunan Al-Kubra (10/163)]*
๐ Meski demikian, kita tetap wajib menghormati kitab-kitab sebelum Al-Quran dengan niat menghormati isinya yang masih otentik dari Allah Al-Hadi. Kita pun menerapkan hukum-hukum kitab-kitab sebelumnya kepada masing-masing pemeluknya. Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi menerangkan,
ูููู) ููุณู ุงูููุงู ูู) ุฃู ููู ุตุญู ูุงู ูู ุงูุชุญูุฉ ุตุญ ุฃูู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ูุงู ููุชูุฑุงุฉ ููุฃูู ูุนูู ู ุจุนุฏู ุชุจุฏูููุง ุงู
“([Seseorang] dianjurkan untuk berdiri karenanya), yaitu karena menghormati mushaf. Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan bahwa ada sebuah hadits shahih menyebutkan bahwa Rasulullah berdiri untuk menghormatik Kitab Taurat seakan dia yakin bahwa tidak ada perubahan di dalamnya,” *[I’anatut Thalibin, [tanpa catatan kota, Dar Ihya Al Kutub Al Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 69]*
๐ Itu sikap kita terhadap shuhuf dan kitab sebelum Al-Quran. Adapun terhadap kisah-kisah Israiliyyat itu sama sikap kita, meski tidak termasuk dalam cetakan kitab suci. Sebab, mau tidak mau, ada kalimat-kalimat dalam Al-Qur'an yang mudah dipahami jika dibantu penafsirannya dengan kisah-kisah Israiliyyat. Seperti kisah kagetnya Nabi Ya'qub saat melihat anak-anaknya yang bermuslihat dengan baju berlumuran darah atas nama baju Nabi Yusuf.
ุนَْู ุฃَุจِู َูุจْุดَุฉَ ุงูุณَُِّูููู، ุนَْู ุนَุจْุฏِ ุงِููู ุจِْู ุนَู ْุฑٍู َูุงู: َูุงَู ุฑَุณُُูู ุงِููู : ุจَِّูุบُูุง ุนَِّูู ََْููู ุขََูุฉً، َูุญَุฏِّุซُูุง ุนَู ุจَِูู ุฅِุณْุฑَุงุฆَِูู ََููุง ุญَุฑَุฌَ، َูู َْู َูุฐَุจَ ุนَََّูู ู ُุชَุนَู ِุฏًุง ََْูููุชَุจََّูุฃْ ู َْูุนَุฏَُู ู َِู ุงَّููุงุฑِ
๐ Dari Abu Kabsyah As-Saluli dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Sampaikan dariku walaupun satu ayat, sampaikan berita dari Bani Israil, tidak mengapa. Barang siapa berdusta atasku dengan sengaja, hendaknya dia menempatkan dirinya dalam Neraka.”_ *[Sunan At-Tirmidzi]*
๐ Begitu pula, menyalahkan keyakinan Yahudi dan Nashrani harus berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah yang diajarkan secara turun-temurun oleh para ulama. Tidak bisa sembarangan, apalagi kita bukan ulama.
๐ Dijawab oleh *Abah Jibril (Haji Brilly)*
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
๐บ ๐ง ๐จ ๐ถ ๐บ ๐ซ ๐ฎ (Broadcast Quantum Fiqih) telah melayani KASYAF (Konsultasi Syariah dan Fiqih) hampir 430 sesi secara gratis/free tanpa syarat, baik secara tatap muka atau jarak jauh, baik lisan maupun tertulis, baik masalah Aqidah, Tafsir, Hadits, Fiqih, Akhlaq, Keluarga, dan lain sebagainya. Sampaikan pertanyaan melalui ustadzjibril@gmail.com atau http://wa.me/6282140888638. Jangan lupa sampaikan nama dan kota domisili. Jika pertanyaan mengandung aib, maka identitas penanya akan dirahasiakan.
๐ Alhamdulillah, BCQUFI telah melengkapi perpustakaan dengan koleksi Kitab berbahasa Arab mulai 1 Februari 2021 untuk meningkatkan kualitas layanan. Belanja Kitab menelan biaya Rp 1.261.900,- untuk Kitab Hasyiyah Shawi (4 jilid), Faidh Al-Qadir (6 jilid) dan Ihya' 'Ulumiddin (4 jilid). Terimakasih kami haturkan kepada donatur yang turut berpartisipasi menyumbangkan dana untuk belanja Kitab. Semoga layanan BCQUFI semakin bagus. *Kami masih membutuhkan banyak kitab klasik berbahasa Arab untuk referensi.* Total ada 25 jilid Kitab Arab dan hampir 1.000 referensi buku berbahasa Indonesia milik BCQUFI.
Senin, 13 Januari 2020
Janda Beranak Siap Dipoligami Pria Beristri dan Beranak Karena CLBK di Depan Ka'bah | Konsultasi Syariah dan Fiqih (KASYAF) | UBER (Ustadz H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.)
Jumat, 10 Januari 2020
Khawatir Kena Najis Saat Berinteraksi Bertransaksi Berhubungan Bermuamalah dengan Orang Kafir Nonmuslim | Konsultasi Syariah dan Fiqih (KASYAF) | UBER (Ustadz H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.)
Konsultasi Syariah dan Fiqih No. 337 - Khawatir Kena Najis Saat Bermuamalah dengan Orang Kafir
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
_Pertanyaan_
Assalamualaikum ustadz
Ustadz saya mau bertanya: Satu, bagaimana semisal kita naik gojek online yang mana sopirnya itu orang Kafir. Saya khawatir ada najis besar. Dua, Misalkan dijalan ada mobil yg ngangkut anjing-anjing. Nah misal kita bermotor lewat berpapasan dgn mobil tersebut. Kan suka anginan klo berkendara. Apakah membuat pakaian kita mnjd najis? Tiga, adik saya kan punya teman. Namanya adit. Adit punya anjing di rumahnya. Nah adik saya sering ikut naik motor adit saat pergi dan pulang sekolah. Apakah pakaian adik saya sewaktu duduk dimotor adit jadi najis besar? Saya was-was mungkin pada saat sehabis bermain dgn anjingnya atau keluarga si adit menaiki motor trsbut dlm keadaan pakaiannya tdk suci. Empat, misal, kita bertamu kerumah orang yang memelihara anjing dirumahnya. Lalu kita duduk di sofa nya, kan mungkin anjingnya pernah diletakkan di sofa ataupun orang dirumah tersebut yang bersentuhan lsg dgn anjing lalu ddk di sofa. Apakah menjadikan kita yg duduk di sofa tersebut menjadi najis besar? Lima, Misal kita beli barang di online shop, dan ternyata yg jual orang kafir. Berkaitan dgn najis itu bagaimana ustadz?
Ditanyakan oleh *saudara Adam* (+62 895-0280-9928) pada _8 Januari 2020_
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
_Jawaban_
Wa'alaikumussalam
Kami salut dengan Mas Adam yang punya perhatian besar terhadap kesucian segala sesuatu. Indikasi kuat bahwa Mas Adam ingin menjadi hamba terbaik. Kita sudah sama-sama tahu bahwa shalat hanya sah bila kita suci. Dari Ibnu ‘Umar, Nabi bersabda,
َูุง ุชُْูุจَُู ุตََูุงุฉٌ ุจِุบَْูุฑِ ุทُُْููุฑٍ
“Tidak diterima shalat tanpa bersuci.” [Jami’ At-Tirmidzi]
Para ulama menjabarkan, bila hendak shalat, kita wajib bersuci dalam tiga: badan, pakaian dan tempat.
Untuk dipahami, bahwa menjadi hamba terbaik itu selain harus menjaga kesucian juga mesti menimba ilmu. Beruntung Mas Adam mau bertanya hukum agama kepada kami.
Sebelum menjawab, pertanyaan dari kami: Memangnya pakaian kita terkena najis dari anjing? Di motornya ada najisnya? Kira2 di sofa tersebut ada bekas najis anjing ga? Kira2 di produk dari online shop tersebut Saat diterima mas Adam, ada najisnya?
Cara menyikapi kemungkinan-kemungkinan najis itu bagaimana? Ya tidak bagaimana-bagaimana, kan tidak ada najisnya. Baru berstatus hukum tidak suci alias najis kalau ada dzat najisnya. Kalau mengikuti kekhawatiran terus, maka setiap saat berarti kita dalam keadaan najis, sebab dimana2 ada najis dan kita BISA JADI tidak sadar kalau ketempelan najis.
Untuk dipahami, bahwa beragama itu bukan berdasarkan waswas, khawatir, jangan-jangan semata, tapi mesti dengan ilmu dan keyakinan. Beruntung Mas Adam bertanya sehingga bisa memiliki ilmu tentang hal penting ini.
Segala sesuatu dianggap suci kalau tidak ada bukti adanya najis. Kita hanya DIWAJIBKAN mensucikan najis yang kelihatan atau ada bekasnya atau ada baunya. Kalau tidak ada najis maka apapun dianggap suci oleh agama kita.
Ulama seluruh dunia sejak zaman atba' tabi'in hingga hari ini dan akhir zaman telah sepakat dengan sebuah prinsip,
ุงูุฃุตู ูู ุงูุงุนูุงู ุงูุงุจุงุญุฉ ู ุงูุทูุงุฑุฉ
"Pada asalnya, segala sesuatu itu boleh dan suci."
Kami juga pernah memaparkan dalam Konsultasi Syariah dan Fiqih (KASYAF) No. 224, bahwa
ุงููููู ูุง ูุฒูู ุจุงูุดู
“Sesuatu yang sudah diyakini maka tidak bisa hilang karena sesuatu yang ragu2.”
Dan
ุงูุงุตู ุจูุงุก ู ุง ูุงู ุนูู ู ุง ูุงู
“Pada asalnya sesuatu statusnya tetap seperti adanya”
Dan
ุงูุญูู ุงูุญุงุฏุซ ุงูู ุงูุณุจุจ ุงูู ุนููู ูุง ุงูู ุงูู ูุฏุฑ ุงูู ุธููู
“Hukum yang baru didasarkan pada sebab yang sudah diketahui, bukan berdasarkan ukuran-ukuran yang hanya dugaan.”
Dan
ูุญู ูุญูู ุจุงูุธูุงูุฑ ู ุงููู ูุญูู ุจุงูุงุณุฑุงุฆุฑ
“Kita menghukumi berdasarkan yang zhahir dan Allah menghukumi berdasarkan yang tidak zhahir.”
Dan masih banyak dalil lainnya dari para ulama
Jadi bagaimana pun kondisinya, yg penting ndak kelihatan ada najis berarti suci. Imam An-Nawawi menjelaskan,
ุงุณْุชِุญْุจَุงุจُ ุงِูุงุญْุชَِูุงุทِ ِูู ุงْูุนِุจَุงุฏَุงุชِ َูุบَْูุฑَِูุง ุจِุญَْูุซُ َูุง َْููุชَِูู ุฅَูู ุงَْููุณَْูุณَุฉ
“Diperbolehkan berihthiyath (berhati-hati) dalam masalah ibadah dan yang lain tapi jangan sampai mengakibatkan waswas.” [Al-Majmu’]
Tolong diingat baik2 ya dalil-dalil fiqih ini, bahwa PADA ASALNYA segala sesuatu itu boleh dan suci, Baru Njenengan 'boleh' waswas jangan2 najis kalau ada INDIKASI najis. Kalau tidak ada indikasi najis ya berarti suci dan Njenengan ga bakalan berdosa andaikata ternyata benar-benar ada najis, sebab kondisinya tidak tahu.
Bersamaan dengan itu, bermuamalah, berinteraksi, bertransaksi dengan non-Muslim alias kafir itu boleh dan tidak perlu khawatir ada najis pada tubuh, pakaian, barang maupun tempat milik non-Muslim tersebut kecuali benar-benar kelihatan, terasa atau tercium najis.
Kenapa bisa seperti itu status hukumnya? Bisa, karena memang begitu. Kita baca bareng-bareng ya nash-nash berikut ini.
Imam Al-Bukhรขri telah meriwayatkan dalam kitab Al-Buyรป’ Bab Asy-Syirรข` wa Al-Bai’ ma’a Al Musyrikรฎn wa Ahli Al-Harb dari Abdurrahmรขn bin Abi Bakar Radhiyallahu anhu beliau berkata,
َُّููุง ู َุนَ ุงَّููุจِِّู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุณََّูู َ، ุซُู َّ ุฌَุงุกَ ุฑَุฌٌُู ู ُุดْุฑٌِู ู ُุดْุนَุงٌّู ุทٌَِููู ุจِุบََูู ٍ َูุณَُُูููุง، ََููุงَู ุงَّููุจُِّู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุณََّูู َ: ” ุจَْูุนًุง ุฃَู ْ ุนَุทَِّูุฉً؟ – ุฃَْู َูุงَู: – ุฃَู ْ ِูุจَุฉً “، َูุงَู: ูุงَ، ุจَْู ุจَْูุนٌ، َูุงุดْุชَุฑَู ู ُِْูู ุดَุงุฉً
Kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian datanglah seorang musyrik berambut panjang sekali (atau berambut acak-acakan) membawa kambing yang digiringnya. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Silahkan dijual atau diberikan? Atau berkata: atau dihadiahkan?" Maka ia menjawab, "Tidak. Tapi dijual." Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli darinya seekor kambing. [Shahih Al-Bukรขhri 4/410 no. 2216].
Dari Aisyah Radhiyallahu anhuma, beliau berkata:
ุฃََّู ุงَّููุจَِّู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุณََّูู َ ุงุดْุชَุฑَู ู ِْู َُูููุฏٍِّู ุทَุนَุงู ًุง ุฅَِูู ุฃَุฌٍَู ู َุนُْููู ٍ، َูุงุฑْุชَََูู ู ُِْูู ุฏِุฑْุนًุง ู ِْู ุญَุฏِูุฏٍ
Sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli bahan makanan dari seorang Yahudi dengan hutang dan orang yahudi mengambil baju besi beliau sebagai gadai jaminannya [Shahih Al-Bukhari].
Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam kitab Al-Janรข`iz dari Anas Radhiyallahu anhu, beliau berkata,
َูุงَู ุบُูุงَู ٌ َُูููุฏٌِّู َูุฎْุฏُู ُ ุงَّููุจَِّู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุณََّูู َ، َูู َุฑِุถَ، َูุฃَุชَุงُู ุงَّููุจُِّู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุณََّูู َ َูุนُูุฏُُู، ََููุนَุฏَ ุนِْูุฏَ ุฑَุฃْุณِِู، ََููุงَู َُูู: «ุฃَุณِْูู ْ»، ََููุธَุฑَ ุฅَِูู ุฃَุจِِูู ََُููู ุนِْูุฏَُู ََููุงَู َُูู: ุฃَุทِุนْ ุฃَุจَุง ุงَููุงุณِู ِ ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุณََّูู َ، َูุฃَุณَْูู َ، َูุฎَุฑَุฌَ ุงَّููุจُِّู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุณََّูู َ ََُููู َُُูููู: ุงูุญَู ْุฏُ َِِّููู ุงَّูุฐِู ุฃََْููุฐَُู ู َِู ุงَّููุงุฑِ.
Dahulu ada seorang anak Yahudi biasa membantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Suatu saat ia sakit, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya dan duduk di dekat kepalanya seraya berkata kepadanya: Masuklah ke dalam Islam! Lalu anak tersebut melihat kepada bapaknya yang berada di sampingnya. Sang bapak berkata kepadanya: Taatilah Abul Qasim . Lalu ia masuk Islam. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar sembari berkata, "Segala puji bagi Allรขh yang telah menyelamatkannya dari neraka." [Shahihl-Bukhรขri 3/219 no. 1356].
Imam Al-Bukhรขri juga meriwayatkan kisah Abu Thรขlib ketika sakaratul maut, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjunginya dan menawarkan Islam kepadanya [lihat Shahih Al-Bukhรขri 3/222 no. 1360].
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memakai baju buatan Yaman sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sakit, beliau keluar memakai baju qithriyyah (yaitu baju bercorak dari Yaman yang terbuat dari katun) [Mukhtashar Asy Syamail hal. 49]. Perlu diketahui bahwa kebanyakan penduduk Yaman ketika itu adalah orang-orang kafir.
Diceritakan oleh Buraidah,
ุฃู ุงููุฌุงุดู ุฃูุฏู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ู ุณูู ุฎููู ุฃุณูุฏูู ุณุงุฐุฌูู ููุจุณูู ุง ุซู ุชูุถุฃ ูู ุณุญ ุนูููู ุง
“Raja Najasyi pernah memberi hadiah pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dua buah khuf yang berwarna hitam yang terlihat sederhana, kemudian beliau menggunakannya dan mengusap kedua khuf tersebut.” [Mukhtashar Asy Syamail hal. 51]
Masih ada beberapa nash lainnya. Walhasil, tidak perlu takut berinteraksi dengan orang-orang kafir kecuali mereka memusuhi kita dan ada najis pada tubuh, pakaian, barang maupun tempat mereka.
Didalam kitab Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, disebutkan bahwa bermuamalah dengan orang-orang kafir adalah dibolehkan. Telah diriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau saw pernah membeli barang dari seorang Yahudi hingga waktu yang dimudahkan.” Terdapat pula riwayat bahwa Nabi saw pernah membeli makanan dari seorang Yahudi hingga waktu yang akan datang dan beliau menggadaikan baju besinya.” Ini merupakan dalil dibolehkannya bermuamalah dengan mereka (orang-orang Kafir).
Adapun tentang kekhawatiran anda terhadap barang-barang yang dibeli dari orang-orang non muslim kemungkinan terkena najis dari binatang-binatang piaraan mereka yang diharamkan islam, seperti : anjing atau babi maka tidaklah berpengaruh
Apabila barang-barang yang dibeli dari mereka terkena oleh najis anjing atau babi dan najis tersebut masih basah maka diharuskan bagi si pembeli untuk mensucikannya dengan air tujuh kali yang salah satunya adalah dengan tanah. Dan jika najis tersebut sudah kering atau tidak lagi tampak bekas-bekasnya pada barang tersebut maka hal itu tidaklah mengapa dan tidak perlu dicuci dengan tanah tujuh kali yang salah satunya dengan tanah.
Sedangkan apabila barang tersebut hanya sebatas tersentuh oleh badan anjing atau babi baik anda mengetahui atau tidak mengetahuinya maka hal demikian tidaklah menjadikan barang itu najis dikarenakan yang najis dari kedua binatang itu bukanlah bulu atau badannya akan tetapi pada air liur dan dagingnya, sebagaimana pendapat para ulama Hanafi dan riwayat kedua dari Imam Ahmad bin Hambal serta yang dipilih oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah.
https://m.eramuslim.com/ustadz-menjawab/membeli-barang-dari-non-muslim.htm
Pun begitu, kita hanya diwajibkan menghilangkan najis dan mensucikan tempat tertentu bila tempat tersebut hendak kita gunakan sebagai tempat shalat.
َูุงَู ุงุจُْู ุนُู َุฑَ ُْููุชُ ุฃَุจِูุชُ ِูู ุงْูู َุณْุฌِุฏِ ِูู ุนَْูุฏِ ุฑَุณُِูู ุงَِّููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู َُْูููุชُ َูุชًู ุดَุงุจًّุง ุนَุฒَุจًุง ََููุงَูุชِ ุงِْูููุงَุจُ ุชَุจُُูู َูุชُْูุจُِู َูุชُุฏْุจِุฑُ ِูู ุงْูู َุณْุฌِุฏِ ََููู ْ َُُูููููุง َูุฑُุดَُّูู ุดَْูุฆًุง ู ِْู ุฐََِูู
Ibnu Umar berkata, “Aku dulu bermalam di masjid di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika itu aku masih muda dan bujangan, dan anjing-anjing kencing (di luar masjid). Lalu keluar masuk masjid, akan tetapi mereka (para sahabat Nabi) sama sekali tidak memercikkan air (di masjid) karena hal itu”. [Sunan. Abu Dawud No. 382 dan Shahih Ibnu Hibban No. 1656]
َูุงَู َูุงَูุชِ ุงِْูููุงَุจُ ุชَุจُُูู َูุชُْูุจُِู َูุชُุฏْุจِุฑُ ِูู ุงْูู َุณْุฌِุฏِ ِูู ุฒَู َุงِู ุฑَุณُِูู ุงَِّููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ََููู ْ َُُูููููุง َูุฑُุดَُّูู ุดَْูุฆًุง ู ِْู ุฐََِูู
Pada masa Rasulullah, anjing-anjing biasa buang air kecil, dan melewati masjid-masjid (datang dan pergi), tetapi mereka (sahabat) tidak pernah memercikkan air di atasnya (urin anjing) [Shahih Al Bukhari no. 174]
Syaikh Muhammad Asyraf ‘Azhim Abadi menjelaskan hadits ini,
َูุงْูุญَุฏِูุซُ ِِููู ุฏٌَِููู ุนََูู ุฃََّู ุงْูุฃَุฑْุถَ ุฅِุฐَุง ุฃَุตَุงุจَุชَْูุง َูุฌَุงุณَุฉٌ َูุฌََّูุชْ ุจِุงูุดَّู ْุณِ ุฃَِู ุงََْูููุงุกِ َูุฐََูุจَ ุฃَุซَุฑَُูุง ุชَุทُْูุฑُ ุฅِุฐْ ุนَุฏَู ُ ุงูุฑَّุดِّ َูุฏُُّู ุนََูู ุฌََูุงِู ุงْูุฃَุฑْุถِ َูุทََูุงุฑَุชَِูุง
“Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa tanah yang terkena najis ketika najisnya sudah kering karena matahari atau karena angin, maka hilanglah efek kenajisannya, dan tanah tersebut menjadi suci, karena (dalam hadits disebutkan) tidak diperciki air, dan itu menunjukan telah keringnya tanah dari najis, dan menunjukan akan sucinya juga.”
َูุงَู ุงْูุฎَุทَّุงุจُِّู ِูู ู َุนَุงِูู ِ ุงูุณَُِّูู ََููุงَูุชِ ุงَِْูููุงุจُ ุชَุจُُูู َูุชُْูุจُِู َูุชُุฏْุจِุฑُ ِูู ุงْูู َุณْุฌِุฏِ ุนَุงุจِุฑَุฉً ุฅِุฐْ َูุง َูุฌُูุฒُ ุฃَْู ุชَุชْุฑَُู ุงَِْูููุงุจُ ุงْูุชَِูุงุจَ ุงْูู َุณْุฌِุฏِ ุญَุชَّู ุชَู ْุชََُِููู َูุชَุจَُูู ِِููู َูุฅَِّูู َุง َูุงَู ุฅِْูุจَุงَُููุง َูุฅِุฏْุจَุงุฑَُูุง ِูู ุฃََْููุงุชٍ َูุงุฏِุฑَุฉٍ ََููู ْ َُْููู ุนََูู ุงْูู َุณْุฌِุฏِ ุฃَุจَْูุงุจٌ ุชَู َْูุนُ ู ِْู ุนُุจُูุฑَِูุง ِِููู
“Al-Khaththabi berkata dalam kitab beliau Ma’alim As-Sunan, dulu anjing-anjing kencing di masjid, anjing tersebut datang dan pergi melewati masjid. sebenarnya tidak diperbolehkan anjing dibiarkan berlalu lalang di masjid sehingga masjid akan hina, akan tetapi (yang ada dalam hadits ini) merupakan kondisi yang jarang, dan di waktu itu masjid belum ada pintu yang bisa menghalangi anjing-anjing tersebut.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan,
ูุงูุฃูุฑุจ ุฃู ููุงู: ุฅู ุฐูู ูุงู ูู ุงุจุชุฏุงุก ุงูุญุงู ุนูู ุฃุตู ุงูุฅุจุงุญุฉ، ุซู ูุฑุฏ ุงูุฃู ุฑ ุจุชูุฑูู ุงูู ุณุงุฌุฏ ูุชุทููุฑูุง ูุฌุนู ุงูุฃุจูุงุจ ุนูููุง،
ูุงุดุงุฑ ุฅูู ุฃู ุฐูู ูุงู ูู ุงูุงุจุชุฏุงุก، ุซู ูุฑุฏ ุงูุฃู ุฑ ุจุชูุฑูู ุงูู ุณุฌุฏ ุญุชู ู ู ูุบู ุงูููุงู ، ูุจูุฐุง ููุฏูุน ุงูุงุณุชุฏูุงู ุจู ุนูู ุทูุงุฑุฉ ุงูููุจ.
“Pendapat yang paling mendekati kebenarab adalah bahwa hal ini terjadi di awal-awal (dibangunnya masjid), berdasarkan prinsip bahwa semua hal diperbolehkan (kecuali ada bukti yang bertentangan), maka ketika perintah turun untuk menghormati dan memurnikan masjid, dibuatlah pintu-pintu masjid (agar anjing tidak bisa masuk)” [Fat-h Al-Bari, 1/279]
Dalam fiqh madzhab Syafi’i, menjadi najisnya suatu tempat sebab bersentuhan dengan anjing, disyaratkan salah satunya dalam kondisi basah. Sehingga jika anjing masuk ke masjid dan tidak diketahui secara pasti menjilat-jilat karpet dan semisalnya di area masjid, maka masjid tersebut tetap dihukumi suci.
Seluruh bumi adalah masjid dan suci kecuali bila terdapat najis dan harus disucikan dari najis bila hendak ditempati untuk shalat.
ุฃُุนْุทِูุชُ ุฎَู ْุณًุง َูู ْ ُูุนْุทََُّูู ุฃَุญَุฏٌ ู ِْู ุงْูุฃَْูุจَِูุงุกِ َูุจِْูู ُูุตِุฑْุชُ ุจِุงูุฑُّุนْุจِ ู َุณِูุฑَุฉَ ุดَْูุฑٍ َูุฌُุนَِูุชْ ِูู ุงْูุฃَุฑْุถُ ู َุณْุฌِุฏًุง َูุทَُููุฑًุง َูุฃَُّูู َุง ุฑَุฌٍُู ู ِْู ุฃُู َّุชِู ุฃَุฏْุฑََูุชُْู ุงูุตََّูุงุฉُ َُْูููุตَِّู َูุฃُุญَِّูุชْ ِูู ุงْูุบََูุงุฆِู ُ ََููุงَู ุงَّููุจُِّู ُูุจْุนَุซُ ุฅَِูู َْููู ِِู ุฎَุงุตَّุฉً َูุจُุนِุซْุชُ ุฅَِูู ุงَّููุงุณِ َูุงَّูุฉً َูุฃُุนْุทِูุชُ ุงูุดََّูุงุนَุฉَ
Dari Jabir bin ‘Abdullah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seorangpun dari Nabi-Nabi sebelumku; aku ditolong melawan musuhku dengan ketakutan mereka sepanjang sebulan perjalanan, bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan suci; maka dimana saja seorang laki-laki dari ummatku mendapati waktu shalat hendaklah ia shalat. Dihalalkan harta rampasan untukku, para Nabi sebelumku diutus khusus untuk kaumnya sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia, dan aku diberikah (hak) syafa’at”. [Shahih Al-Bukhari]
Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ุงูุฃَุฑْุถُ َُُّูููุง ู َุณْุฌِุฏٌ ุฅِูุงَّ ุงْูู َْูุจُุฑَุฉَ َูุงْูุญَู َّุงู َ
“Seluruh bumi adalah masjid (boleh digunakan untuk shalat) kecuali kuburan dan tempat pemandian” [Sunan At-Tirmidzi no. 317; Sunan Ibnu Majah no. 745]
Mungkin Mas Adam masih bertanya, bukankah orang-orang musyrik itu najis? Betul, Allรขh Al-Jalil berfirman,
َٰูุٓฃََُّููุง ูฑَّูุฐَِูู ุกَุงู َُููุٓงْ ุฅَِّูู َุง ูฑููۡ ُุดุۡฑَُِููู َูุฌَุณٞ ََููุง َููุۡฑَุจُูุงْ ูฑููۡ َุณุۡฌِุฏَ ูฑูุۡญَุฑَุงู َ ุจَุนุۡฏَ ุนَุงู ِِูู ۡ َٰูุฐَุงۚ
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. Oleh karena itu, janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” [QS. At-Taubah: 28]
Untuk memahami firman Allah Al-Hasib ini, kita mesti melihat bagaimana Rasulullah dan para shahabat Beliau.
ุฃُุชَِู ุนََِْููู ุงูุตَّูุงุฉُ َูุงูุณَّูุงู ُ ุจَِูุจٍَู َูุดَุฑِุจَ ุจَุนْุถَُู ََููุงَูู ุงْูุจَุงَِูู ุฃَุนْุฑَุงุจًِّูุง َูุงَู ุนََูู َูู ِِِููู َูุดَุฑِุจَ ุซُู َّ َูุงََُููู ุฃَุจَุง ุจَْูุฑٍ ุฑَุถَِู ุงَُّููู ุนَُْูู َูุดَุฑِุจَ ََููุงู : ุงูุฃْْูู ََู َูุงูุฃْْูู ََู
Rasulullah diberikan susu lalu beliau meminumnya sebagian lalu disodorkan sisanya itu kepada a’rabi (kafir) yang ada di sebelah kanannya dan dia meminumnya lalu disodorkan kepada Abu Bakar dan beliau pun meminumnya (dari wadah yang sama) lalu beliau berkata,’Ke kanan dan ke kanan’. [Shahih Al-Bukhari]
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,
ุจَุนَุซَ ุงَّููุจُِّู ุฎَْููุงً ِูุจََู َูุฌْุฏٍ، َูุฌَุงุกَุชْ ุจِุฑَุฌٍُู ู ِْู ุจَِูู ุญََِูููุฉَ َُููุงُู َُูู ุซُู َุงู َุฉُ ุจُْู ุฃُุซَุงٍู، َูุฑَุจَุทُُูู ุจِุณَุงุฑَِูุฉٍ ู ِْู ุณََูุงุฑِู ุงْูู َุณْุฌِุฏِ، َูุฎَุฑَุฌَ ุฅَِِْููู ุงَّููุจُِّู ََููุงَู: ุฃَุทُِْูููุง ุซُู َุงู َุฉَ !َูุงْูุทَََูู ุฅَِูู َูุฎٍْู َูุฑِูุจٍ ู َِู ุงْูู َุณْุฌِุฏِ، َูุงุบْุชَุณََู، ุซُู َّ ุฏَุฎََู ุงْูู َุณْุฌِุฏَ، ََููุงَู: ุฃَุดَْูุฏُ ุฃَْู َูุง ุฅََِูู ุฅَِّูุง ุงُููู َูุฃََّู ู ُุญَู َّุฏًุง ุฑَุณُُูู ุงِููู
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim pasukan berkuda ke arah Najd. Kemudian pasukan tersebut kembali dengan membawa seorang tawanan dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal. Mereka lantas mengikatnya di salah satu tiang Masjid Nabawi. Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemuinya, beliau berkata, ‘Bebaskan Tsumamah!’ Lalu Tsumamah beranjak ke pohon kurma yang tidak jauh dari Masjid Nabawi, mandi, lalu masuk masjid, lantas berkata, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah’.” [Muttafaq ‘Alaih]
Di dalam hadits ini, para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikat tubuh Tsumamah yang masih kafir di salah satu tiang masjid. Seandainya fisik orang kafir itu najis, tidak mungkin ia dimasukkan ke Masjid Nabawi yang suci.
Imam An-Nawawi berkata, “Hadits ini menunjukan bolehnya mengikat tawanan dan menahannya, serta bolehnya memasukkan orang kafir dalam masjid. Dan Madzhab Imam Asy-Syafi’i adalah bolehnya memasukan orang kafir dalam mesjid dengan idzin seorang muslim, sama saja apakah orang kafir tersebut dari kalangan Ahlul Kitab atau selain mereka” [Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim 12/87, lihat perkataan Imam As-Syafi’i dalam Al-Umm 1/54]
Demikian juga Imam Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya memberi judul sebuah bab dengan judul,
ุจَุงุจُ ุงูุฑُّุฎْุตَุฉِ ِูู ุฅِْูุฒَุงِู ุงْูู ُุดْุฑَِِْููู ุงْูู َุณْุฌِุฏَ ุบَْูุฑَ ุงْูู َุณْุฌِุฏِ ุงْูุญَุฑَุงู ِ ุฅِุฐَุง َูุงَู ุฐََِูู ุฃَุฑْุฌَุง ูุฅุณْูุงَู ِِูู ْ َูุฃَุฑََّู ُُِْููููุจِِูู ْ ุฅِุฐَุง ุณَู ِุนُูุง ุงُْููุฑْุขَู َูุงูุฐِّْูุฑَ
“Bab rukhshahnya memasukan kaum musyrikin ke dalam masjid selain al-masjid al-haram jika dengan hal itu diharapkan mereka lebih mudah masuk islam dan lebih melembutkan hati mereka tatkala mereka mendengar Al-Qur’an dan dzikir (mau’izhah)”
Lalu beliau membawakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Nabu bernama Utsman bin Abi Al ‘Ash,
ุงََّู َْููุฏَ ุซٍَِููู َูุฏِู ُูุง ุนูู ุฑุณูู ุงَِّููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู َูุฃَْูุฒََُููู ُ ุงْูู َุณْุฌِุฏَ ََُِููููู ุฃَุฑََّู ُُِููููุจِِูู ْ
“Bahwasanya utusan suku Tsaqif datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabipun memasukan mereka ke dalam mesjid agar qalbu mereka lebih lembut” [Shahih Ibnu Khuzaimah 2/285 no 1328, Musnad Ahmad 4/218, As-Sunan Al-Kubro li Al-Baihaqi no 4131 dan Al-Mu’jam Al-Kabir li Ath-Thabrani no 8372]
Baiklah, kami rasa jawaban kami terlampau cukup untuk memuaskan dahaga ilmu Mas Adam dan para jamaah Quantum Fiqih lainnya.
Dijawab oleh UBER (Ustadz H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.)
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Mohon bantuan share jawaban ini ke grup-grup Whatsapp, Facebook, Telegram dan lain-lain dengan tetap mencantumkan identitas kami, Konsultasi Syariah dan Fiqih (KASYAF) oleh Quantum Fiqih Islamic Broadcast (QUFI IB) bimbingan UBER (Ustadz H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.).
Jangan lupa follow instagram.com/pejuangshalatsunnah
Dukung QUFI IB dengan belanja mushaf Al-Quran di instagram.com/gudangkitabsucialquran
Sampaikan konsultasi melalui kontakk.com/@quantumfiqih
Ikuti aneka pelatihan bisnis kuliner Rumahan di LPKS YADARIQUFIYA hubungi 082140888638
Jumat, 03 Januari 2020
Batalkah Shalat Yang Tidak Khusyu dan Tidak Sempurna | Konsultasi Syariah dan Fiqih (KASYAF) | Ustadz H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.
Cara Taubat Dari Mukhaddirat (Narkoba) Dan Utangnya | Konsultasi Syariah dan Fiqih (KASYAF) | Ustadz H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.
Rabu, 01 Januari 2020
Apakah Allah Menerima Infaq Atas Nama Janin Jabang Bayi Yang Belum Lahir dan Badal Haji Untuk Orang Yang Tidak Wajib Haji Hingga Wafat | Konsultasi Syariah dan Fiqih (KASYAF) | Ust. H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.
Mencari Jawaban Hasil Shalat Istikharah Dengan Melacak Kandungan Makna Ayat Suci Al-Qur'an yang Dicari Secara Acak Pada Mushaf | Konsultasi Syariah dan Fiqih (KASYAF) | Ust. H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.
Sangat dimungkinkan adanya ayat tertentu yang turun khusus untuk menjawab persoalan yang melibatkan orang-orang tertentu.
Misalnya, ada ayat yang turun untuk membenarkan pendapat (ijtihad) Umar bin Al-Khaththab. Yaitu surat Al-Anfal ayat 67: Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki akhirat. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Anfal: 67)
Latar belakang turunnya ayat ini adalah musyawarah dan dengar pendapat yang digelar Rasulullah terkait dengan tawanan perang Badar. Beliau dan sebagian besar shahabat cenderung perpendapat bahwa sebaiknya musyrikin Makkah itu tidak dibunuh, tetapi ditawan saja untuk dimintai tebusan dari keluarganya. Sedangkan Umar cenderung untuk menghabisi nyawa mereka. Ketika keputusan telah diambil dan pendapat Umar 'kalah' suara, tiba-tiba turunlah ayat ini yang membenarkan pendapat Umar.
Maka turunnya ayat ini menjadi petunjuk bagi Rasulullah untuk membenarkan pendapat Umar dan mencabut kembali ijtihadnya sendiri.
Namun sekarang ini Al-Quran sudah tidak turun lagi dari langit, sehingga tidak ada lagi kasus per kasus yang dipecahkan dengan cara menanti turunnya ayat Al-Quran.
Adapun menggunakan ayat Al-Quran dengan cara acak, jelas tidak bisa dibenarkan. Sebab belum tentu ayat itu tepat untuk menjawab suatu masalah. Bahkan boleh jadi malah sama sekali tidak 'nyambung' antara masalah yang ingin dipecahkan dengan ayat yang didapat secara random itu. Kalau hal ini dipaksakan juga, kita telah berdosa kepada Al-Quran. Sebab telah menyelewengkan penggunaannya dengan cara yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan.
Demikian jawaban Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc. MA. dalam https://www.rumahfiqih.com/konsultasi-1167562015-jawaban-istikharah-dari-al-quran.html.
ุงูุฃุฎุฐ ู ู ุงูู ุตุญู ู ุญุฑู ุนูุฏ ุฌู ุงุนุฉ ู ู ุงูุนูู ุงุก ูุฃูู ู ู ุจุงุจ ุงูุงุณุชูุณุงู ุจุงูุฃุฒูุงู .
ูุงู ุงููุฑุงูู ุฑุญู ู ุงููู : " ูุฃู ุง ุงููุฃู ุงูุญุฑุงู ููุฏ ูุงู ุงูุทุฑุทูุดู ูู ุชุนูููู ุฅู ุฃุฎุฐ : ุงููุฃู ู ู ุงูู ุตุญู ูุถุฑุจ ุงูุฑู ู ูุงููุฑุนุฉ ูุงูุถุฑุจ ุจุงูุดุนูุฑ ูุฌู ูุน ูุฐุง ุงูููุน ุญุฑุงู ; ูุฃูู ู ู ุจุงุจ ุงูุงุณุชูุณุงู ุจุงูุฃุฒูุงู . ูุงูุฃุฒูุงู ุฃุนูุงุฏ ูุงูุช ูู ุงูุฌุงูููุฉ ู ูุชูุจ ุนูู ุฃุญุฏูู ุง ุงูุนู ูุนูู ุงูุขุฎุฑ ูุง ุชูุนู ูุนูู ุงูุขุฎุฑ ุบูู ููุฎุฑุฌ ุฃุญุฏูุง , ูุฅู ูุฌุฏ ุนููู ุงูุนู ุฃูุฏู ุนูู ุญุงุฌุชู ุงูุชู ููุตุฏูุง ุฃู ูุง ุชูุนู ุฃุนุฑุถ ุนููุง ูุงุนุชูุฏ ุฃููุง ุฐู ูู ุฉ , ุฃู ุฎุฑุฌ ุงูู ูุชูุจ ุนููู ุบูู ุฃุนุงุฏ ุงูุถุฑุจ ููู ูุทูุจ ูุณู ู ู ู ุงูุบูุจ ุจุชูู ุงูุฃุนูุงุฏ ููู ุงุณุชูุณุงู ุฃู ุทูุจ ุงููุณู ، ุงูุฌّูุฏ ูุชุจุนู , ูุงูุฑุฏูุก ูุชุฑูู , ููุฐูู ู ู ุฃุฎุฐ ุงููุฃู ู ู ุงูู ุตุญู ุฃู ุบูุฑู ุฅูู ุง ูุนุชูุฏ ูุฐุง ุงูู ูุตุฏ ุฅู ุฎุฑุฌ ุฌูุฏุง ุงุชุจุนู ุฃู ุฑุฏูุฆุง ุงุฌุชูุจู ، ููู ุนูู ุงูุงุณุชูุณุงู ุจุงูุฃุฒูุงู ุงูุฐู ูุฑุฏ ุงููุฑุขู ุจุชุญุฑูู ู ููุญุฑู ." ุงูุชูู ู ู "ุงููุฑูู" (4/ 240).
Mengambil (nasib baik) dari mushaf termasuk diharamkan oleh sekelompok kalangan para ulama’ karena hal itu termasuk mengundi nasib dengan anak panah. Kata ‘azlam’ adalah anak panah waktu jahiliyah ditulis salah satunya lakukan dan yang lain jangan lakukan, sementara satu lagi tidak ditulis apa-apa. Kemudian dikeluarkan salah satunya, kalau yang keluar lakukan, maka dilanjutkan keperluannya yang diinginkannya. Kalau jangan lakukan, maka tidak jadi melakukannya dan diyakini hal itu jelek. Atau keluar yang tidak ada tulisan apa-apa, maka diulangi lagi pengambilannya. Dia menginginkan bagiannya dari perkara ghaib dengan anak panah ini. Yaitu dia meminta bagian (nasib). Kalau baik, diikutinya. Kalau jelek ditinggalkannya. Begitu juga orang yang mengambil nasib baik dari mushaf atau lainnya. Sesungguhnya dia meyakini kalau keluar baik, maka diikutinya atau kalau keluar jelek, ditinggalkannya. Ini benar-benar mengundi nasib dengan anak panah. Yang mana di Al-Qur’an telah ada pelarangannya, maka diharamkan.” [Al-Furuq, 4/240]
ุงุณุชุฎุฑุงุฌ ุงููุฃู ู
ู ุงูู
ุตุญู ูุฅูู ููุน ู
ู ุงูุงุณุชูุณุงู
ุจุงูุฃุฒูุงู
, ููุฃูู ูุฏ ูุฎุฑุฌ ูู ู
ุง ูุง ูุฑูุฏ ููุคุฏู ุฐูู ุฅูู ุงูุชุดุงุคู
ุจุงููุฑุขู , ูู
ู ุฃุฑุงุฏ ุฃู
ุฑุง ูุณู
ุน ู
ุง ูุณูุก ูุง ูุฑุฌุน ุนู ุฃู
ุฑู ููููู : ุงูููู
ูุง ูุฃุชู ุจุงูุฎูุฑ ุฅูุง ุฃูุช , ููุง ูุฃุชู ุจุงูุดุฑ ุฃู ูุง ูุฏูุน ุงูุดุฑ ุฅูุง ุฃูุช " ุงูุชูู ู
ู "ุงูููุงูู ุงูุฏูุงูู" (2/ 342).
Mengeluarkan nasib baik dari mushaf karena hal itu termasuk mengundi nasib dengan panah. Karena terkadang keluar dari apa yang tidak diinginkannya, sehingga hal itu menganggap jelek dengan Al-Qur’an. Kalau dia menginginkan suatu perkara dan mendengar sesuatu yang jelek, jangan kembali dari urusannya dan hendaknya dia mengatakan, “Ya Allah tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Anda. Dan tidak ada yang dapat mendatangkan kejelekan atau menolak kejelekan kecuali Anda.” [Al-Fawakih Ad-Dawani, 2/342]
ูุชุจูู ุจูุฐุง ุฃู ุฃุฎุฐ ุงููุฃู ู ู ุงูู ุตุญู ุฃู ูุชุญู ูุงููุธุฑ ููู ุง ูุฎุฑุฌ ، ูุจูุงุก ุงูุชุตุฑู ุนูู ุฐูู ، ู ุญุฑู ، ููู ู ู ุงูุงุณุชูุณุงู ุจุงูุฃุฒูุงู ، ุจุฎูุงู ุงููุฃู ุงูุญุณู ุงูุฐู ูุฃุชู ุจุนุฏ ู ุจุงุดุฑุฉ ุงูุฅูุณุงู ููุนู ู ، ููุณู ุน ููู ุฉ ุญุณูุฉ ุฏูู ูุตุฏ ููุง ุจุญุซ .
Dari sini telah jelas, bahwa mengambil nasib baik (fa’lu) dari mushaf dengan membuka dan melihat apa yang akan keluar dan melakukan perbuatan diambil darinya itu diharamkan. Karena itu termasuk mengundi nasib dengan panah. Berbeda dengan fa’lu (nasib baik) yang datang setelah seseorang melakukan amalan secara langsung. Kemudian dia mendengarkan kata-kata baik tanpa ada maksud dan pencarian. [https://islamqa.info/ar/answers/145596]