Tampilkan postingan dengan label Konsultasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konsultasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Oktober 2021

Amalan Ketika Khataman 30 Juz Al-Quran | Konsultasi Syari'ah & Fiqih (KASYAF) | Bahtsul Masail Taujih Tarjih Fatwa Khuthbah

Konsultasi Syari'ah & Fiqih (KASYAF) No. 
*414 - Amalan Ketika Khataman*

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
_Pertanyaan_
☎️ apa yg biasanya dilakukan org2 kalo khatam qur'an..kulo mboten paham Niki mboten pakai nasi kuning ngoten tha ustadz๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ Alhmdulillah sejak saya punya mushaf Qur'an attadarus Jd mudah membaca qur an insyaa Allah dalam bulan ini saya khatam 2 lembar setelah shalat maghrib mawon ustadz..kalo biasanya tidak ada godaan syaiton bisa 4 lembaran..masih bau kencur ustadz..saya๐Ÿคญ Saya berbulan2 baru khatam ustadz๐Ÿฅบ

๐Ÿ“ Ditanyakan oleh Ibu *Tanti A.* (+62 857-3138-2404) dari Mojokerto pada 21 Agustus 2021 via WhatsApp tanpa editing

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
_Jawaban_
๐Ÿ•ฐ️ Sekadar info biar siap. Bahwa kalau kita memang ditaqdirkan Allah jadi orang istimewa dan kaya raya dunia-Akhirat maka Allah akan memaksa kita untuk beramal yang luar biasa, paksaan Allah bisa berupa musibah dan segala masalah, ketika itulah mau tidak mau kita harus meningkatkan ibadah. Jadi ayo kita tingkatkan ibadah kita sebelum kita dipaksa Allah. Saya sudah merasakan itu, maka saya tidak mau males-malesan ibadah karena takut dipaksa Allah lagi dengan musibah. Diantaranya saya membaca dua juz Al-Qur`an setiap hari. Sebaliknya, kalau kita ditaqdirkan Allah jadi orang yang biasa aja di Surga maupun di dunia, ya Allah ga akan memaksa kita untuk meningkatkan ibadah, akhirnya kita santai-santai doang sampai-sampai males ibadah, akhirnya begitu di kubur, nyesel.

๐Ÿ“œ Disampaikan oleh Ibnu ‘Abbas,
ู‚َุงู„َ ุฑَุฌُู„ٌ ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฃَูŠُّ ุงู„ْุนَู…َู„ِ ุฃَุญَุจُّ ุฅِู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ู‚َุงู„َ ุงู„ْุญَุงู„ُّ ุงู„ْู…ُุฑْุชَุญِู„ُ ู‚َุงู„َ ูˆَู…َุง ุงู„ْุญَุงู„ُّ ุงู„ْู…ُุฑْุชَุญِู„ُ ู‚َุงู„َ ุงู„َّุฐِูŠ ูŠَุถْุฑِุจُ ู…ِู†ْ ุฃَูˆَّู„ِ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ ุฅِู„َู‰ ุขุฎِุฑِู‡ِ ูƒُู„َّู…َุง ุญَู„َّ ุงุฑْุชَุญَู„َ
Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, _“Al-Hall wa Al-Murtahil.”_ Orang ini bertanya lagi, “Apa itu al-hall wa al-murtahil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, _“Yaitu yang membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal.”_ *[Sunan At-Tirmidzi]*

ู‚َูˆْู„ُู‡ُ : ( ุงู„ْุญَุงู„ُّ ุงู„ْู…ُุฑْุชَุญِู„ُ ) ู‚َุงู„َ ุงู„ْุฌَุฒَุฑِูŠُّ ูِูŠ ุงู„ู†ِّู‡َุงูŠَุฉِ ู‡ُูˆَ ุงู„َّุฐِูŠ ูŠَุฎْุชِู…ُ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†َ ุจِุชِู„َุงูˆَุชِู‡ِ ุซُู…َّ ูŠَูْุชَุชِุญُ ุงู„ุชِّู„َุงูˆَุฉَ ู…ِู†ْ ุฃَูˆَّู„ِู‡ِ ุดَุจَّู‡َู‡ُ ุจِุงู„ْู…ُุณَุงูِุฑِ ูŠَุจْู„ُุบُ ุงู„ْู…َู†ْุฒِู„َ ูَูŠَุญِู„ُّ ูِูŠู‡ِ ، ุซُู…َّ ูŠَูْุชَุชِุญُ ุณَูŠْุฑَู‡ُ ุฃَูŠْ ูŠَุจْุชَุฏِุฆُู‡ُ 
๐Ÿ“ป Diuraikan oleh Imam Al-Jazari dalam An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits, al-hall wa al-murtahil ialah sebutan untuk orang yang membawa mengkhatamkan tilawah Al-Quran lalu mengulanginya dari awal lagi. Persis seperti traveller (musafir) yang tatkala sampai di suatu tempat istirahat di situ lalu tidak lama melanjutkan kembali perjalanannya.

ูˆَูƒَุฐَู„ِูƒَ ู‚ُุฑَّุงุกُ ู…َูƒَّุฉَ ุฅِุฐَุง ุฎَุชَู…ُูˆุง ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†َ ุงุจْุชَุฏَุกُูˆุง ูˆَู‚َุฑَุกُูˆุง ุงู„ْูَุงุชِุญَุฉَ ูˆَุฎَู…ْุณَ ุขูŠَุงุชٍ ู…ِู†ْ ุฃَูˆَّู„ِ ุงู„ْุจَู‚َุฑَุฉِ ุฅِู„َู‰ ูˆَุฃُูˆู„َุฆِูƒَ ู‡ُู…ِ ุงู„ْู…ُูْู„ِุญُูˆู†َ ุซُู…َّ ูŠَู‚ْุทَุนُูˆู†َ ุงู„ْู‚ِุฑَุงุกَุฉَ ูˆَูŠُุณَู…ُّูˆู†َ ูَุงุนِู„َ ุฐَู„ِูƒَ ุงู„ْุญَุงู„َّ ุงู„ْู…ُุฑْุชَุญِู„َ ، ุฃَูŠْ ุฎَุชَู…َ ุงู„ู‚ُุฑْุขู†َ ، ูˆَุงุจْุชَุฏَุฃَ ุจِุฃَูˆَّู„ِู‡ِ ูˆَู„َู…ْ ูŠَูْุตِู„ْ ุจَูŠْู†َู‡ُู…َุง ุจِุฒَู…َุงู†ٍ ،
๐Ÿ“’ Dulu para Qari Makkah manakala usai mengkhatamkan Al-Quran mereka lanjut memulai dari awal lagi membaca Al-Fatihah dan lima ayat pertama surah Al-Baqarah hingga ayat yang berbunyi wa ulaika humul-muflihun, baru menghentikan bacaan. Mereka menyebut, demikianlah makna aplikatif sebutan Nabi Al-Hall wa Al-Murtahil. Yaitu mengkhatamkan Al-Quran lalu membaca awal surah tanpa terjeda waktu sedikitpun.

๐Ÿต️ Jadi amalan membaca Al-Qur`an adalah amalan istimewa luar biasa. Kita bisa bayangkan, Al-Qur`an seluruhnya adalah Kalamullah, firman Tuhan, omongannya Allah. Kita membaca ulang omongan-Nya berarti kita meniru omongan-Nya. Ketika omongan-Nya melekat dengan lisan kita karena terlalu sering kita baca maka bukan tidak mungkin lisan kita akan memiliki kekuatan hebat. 

๐Ÿก Jangankan menirukan firman-Nya, kita menyebut nama-Nya saja sudah mendapat berbagai perlindungan. Sebagaimana ketika kita mau masuk ke sebuah sistem pertahanan, misalnya istana kepresidenan, lalu kita dihalangi oleh sistem pertahanan di situ untuk masuk ke istana, lalu kita sampaikan, “Saya keluarga dekat Presiden.” Praktis kita bisa melenggang masuk. Begitu juga ketika kita sedang dicegat oleh sekawanan penjahat, lalu kita sebut, “Hei, jangan macam-macam ya, saya keluarga bos mafia.” Bayangkan! Baru sebut nama saja, kita sudah save banget. Bagaimana pula bila kita sebut nama Allah di hadapan makhluq-makhluq-Nya? Apalagi kita menirukan firman-Nya setiap detik tanpa putus. 

⛺ Kelak di Surga, ketika kita ingin naik ke Surga yang lebih tinggi, maka para malaikat penjaga gerbang Surga meminta kita menyebutkan sandi rahasia berupa ayat-ayat Allah yang kita hafal semasa di dunia. Sebagaimana ketika kita hendak memasuki sebuah ruang rahasia di dunia ini yang dijaga ketat dan kita baru bisa memasukinya hanya jika kita bisa menyebutkan sandi rahasia. Bagaimana, termotivasi untuk sebanyak-banyaknya dan sesering-seringnya membaca firman-firman Allah?

๐Ÿšš Nah, manakala kita banyak dan sering membaca Al-Qur`an, berarti kita sering dan banyak mengkhatamkannya. Setiap kali kita mengkhatamkannya sebanyak itu pula kita mendapatkan perhatian Allah spesial, Allah juga menurunkan sepasukan besar malaikat, Rasulullah bersabda,
ู…َู†ْ ู‚َุฑَุฃَ ุงู„ْู‚ُุฑْุฃูٓ†َ ุซُู…َّ ุฏَุนَุง، ุฃَู…َّู†َ ุนَู„َู‰ ุฏُุนَุงุฆِู‡ِ ุงَุฑْุจَุนَุฉُ ุงَู„َุงูِ ู…َู„ِูƒٍ  
“Barang siapa telah membaca Al-Qur’an (khatam) kemudian dia berdoa, maka ada 4 ribu malaikat yang mengaminkan doanya” *[Sunan Ad-Darimi]*
ุงِุฐَุง ุฎَุชَู…َ ุงู„ْุนَุจْุฏُ ุงู„ْู‚ُุฑْุฃูٓ†َ ุตَู„َّู‰ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุนِู†ْุฏَ ุฎَุชْู…ِู‡ِ ุณِุชُّูˆْู†َ ุงَู„ْูِ ู…َู„ِูƒٍ
“Apabila seorang hamba telah mengkhatamkan Al-Qur’an, maka akan hadir 60.000 malaikat yang membacakan istighfar untuknya saat khatam Al-Qur’an tersebut” *[Sunan Ad-Darimi]*

๐Ÿ—บ️ Imam An-Nawawi memaparkan, 
ูˆูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ูŠู„ุญّ ููŠ ุงู„ุฏุนุงุก ูˆุฃู† ูŠุฏุนูˆ ุจุงู„ุฃู…ูˆุฑ ุงู„ู…ู‡ู…ุฉ ูˆุฃู† ูŠูƒุซุฑ ููŠ ุฐู„ูƒ ููŠ ุตู„ุงุญ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ูˆุตู„ุงุญ ุณู„ุทุงู†ู‡ู… ูˆุณุงุฆุฑ ูˆู„ุงุฉ ุฃู…ูˆุฑู‡ู…
“Hendaklah dia bersungguh-sungguh dalam bedoa dan mendoakan hal-hal yang penting serta memperbanyak doa untuk kebaikan kaum muslimin dan para pemimpin mereka.” *[At-Tibyรขn fรฎ Adรขb Hamalati Al-Qurรขn, Dar Al-Minhaj, halaman 184]*

๐Ÿงถ Maka dari itu, ketika kita usai membaca 30 juz, 114 surah, 6.666 ayat (menurut kalkulasi KH. Nawawi Banten dalam Nihayah Az-Zain), 323.671  huruf (menurut kalkulasi Ibnu ‘Abbas) atau 1.000.000 huruf (menurut kalkulasi ‘Umar bin Al-Khaththab), maka ketika itulah kita dianjurkan memperbanyak doa, doa apa saja, tidak harus doa yang teksnya tertera di mushaf-mushaf Al-Qur`an. Kenapa tidak harus itu? Karena teks-teks doa tersebut hanya sebagai opsi panduan saja, hanya pilihan saja, sebenarnya bebas doa apa saja. Namun, timbang bingung mau doa apa, baca saja teks panduan doa khatam di mushaf yang Anda pakai, lalu tambah dengan doa apa saja dengan bahasa Anda sendiri. 

ูˆุนู† ุงู„ุญูƒู… ุนู† ู…ุฌุงู‡ุฏ ู‚ุงู„: ุฅู†ู…ุง ุฏุนูˆู†ุงูƒ ุฃู†َّุง ุฃุฑุฏู†ุง ุฃู† ู†ุฎุชู… ุงู„ู‚ุฑุขู†، ูˆุฅู†ู‡ ุจู„ุบู†ุง ุฃู† ุงู„ุฏุนุงุก ูŠุณุชุฌุงุจ ุนู†ุฏ ุฎุชู… ุงู„ู‚ุฑุขู†، ู‚ุงู„: ูุฏุนَูˆุง ุจุฏุนูˆุงุช. 
๐ŸŽ’ Dan riwayat Al-Hikam dari Mujahid, beliau pernah mengatakan dalam majelis khatam Al-Qur`an kepada para hadirin, “Sesungguhnya kami mengundang Anda karena kami hendak mengkhatamkan Al-Qur`an, dan telah sampai kabar-kabar dari para pendahulu bahwa doa amat sangat mustajab ketika khatam Al-Qur`an.” Maka para hadirin juga ikut berdoa dengan doa-doa mereka masing-masing. *[Sunan Ad-Darimi 2/561]*

๐Ÿ‘” Secara terus terang Syaikh Prof. Dr. Isma’il Asy-Syarqawi Al-Azhari menyatakan memang tidak ada hadits shahih dari Nabi bahwa waktu khatam Al-Qur`an termasuk waktu mustajabah, namun,
ูˆููŠ ุจุนุถ ุงู„ุฑูˆุงูŠุงุช ุงู„ุตุญูŠุญุฉ: ูˆุฃู†ู‡ ูƒุงู† ูŠู‚ุงู„: ุฅู† ุงู„ุฑุญู…ุฉ ุชู†ุฒู„ ุนู†ุฏ ุฎุงุชู…ุฉ ุงู„ู‚ุฑุขู†، ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู….
Dalam sebagian riwayat shahih, bahwa biasa dikatakan, “Sesungguhnya rahmah Allah turun ketika Al-Qur`an khatam dibaca.” *[https://www.alukah.net/sharia/0/55528/#ixzz750jDemTE]*

๐ŸŒŽ Syaikh Asy-Syarqawi juga mengingatkan, sekalipun tidak ada teks valid dari Nabi, bukan berarti waktu khatam Al-Qur`an sama sekali bukan waktu mustajabah, mengingat adanya hadits Ash-hab Al-Ghar (tiga orang yang terjebak di gua), jadi min bab at-tawassul bi al-a’mal ash-shalihah.

๐Ÿง€ Saya juga masih ingat dulu pernah diajar oleh salah satu ustadzah saya saat masih TPQ, bahwa sangat bagus bila hendak khatam maka kita puasa dulu, ketika puasa itulah kita tuntaskan bacaan kita hingga khatam. Ternyata memang ada ‘ibarahnya, Imam An-Nawawi menyatakan,
ุตุญ ุนู† ุจุนุถ ุงู„ุชุงุจุนูŠู† ุงู„ูƒูˆููŠูŠู† ุฃู†ู‡ู… ูƒุงู†ูˆุง ูŠุตุจุญูˆู† ุตูŠุงู…ًุง ุงู„ูŠูˆู… ุงู„ุฐูŠ ูŠุฎุชู…ูˆู† ููŠู‡.
“Memang valid informasi dari sebagian generasi Tabi’in yang tinggal di Kuffah bahwa mereka berpuasa pada hari ketika mengkhatamkan Al-Qur`an.” *[https://www.alukah.net/sharia/0/55528/#ixzz750hPv9sC]*

๐Ÿซ’ Dianjurkan juga mengumpulkan sebentar anggota keluarga atau siapa saja untuk ikut mengaminkan doa saat berdoa manakala khatam Al-Qur`an, sebagaimana diteladankan oleh Anas bin Malik, salah satu khadim (pembantu) Rasulullah,
 ูˆุนู† ุซุงุจุช ู‚ุงู„: ูƒุงู† ุฃู†ุณ ุฅุฐุง ุฎุชู… ุงู„ู‚ุฑุขู† ุฌู…ุน ูˆู„ุฏู‡ ูˆุฃู‡ู„ ุจูŠุชู‡، ูุฏุนุง ู„ู‡ู…
Kabar dari Tsabit, adalah Anas bin Malik ketika khatam Al-Qur`an, dia kumpulkan anak-anaknya dan keluarga dekatnya, lalu berdoa untuk mereka. *[Sunan Ad-Darimi 2/560]*

๐Ÿ‰ Tradisi-tradisi keshalihan semacam ini sebenarnya amat sangat perlu dilestarikan, sebagaimana di kampung-kampung, kita masih biasa mendengar kabar ketika anak-anak TPQ khatam Al-Qur`an pertama kali, maka orang tuanya membuatkan hidangan dan jajanan untuk teman-temannya di TPQ kemudian didoai bersama-sama. 

๐Ÿšง Sebenarnya tidak hanya anak-anak TPQ, kita yang sudah tua-tua ini juga perlu membiasakan itu, baik itu kita khatam pertama kali, maupun khatam kesekian kalinya sepanjang usia kita. Bahkan bila one day two juz misalnya, sebagaimana saya rutinkan, berarti setiap bulan saya harusnya dua kali mengadakan seremonial khataman walaupun kecil-kecilan, sekadar makan bareng keluarga hang out di restoran mana gitu, tidak harus di TPQ atau di masjid.

๐Ÿ“ Dijawab oleh Mas *Jibril* (Haji Brilly) 
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
๐Ÿ“บ ๐Ÿ‡ง ๐Ÿ‡จ ๐Ÿ‡ถ ๐Ÿ‡บ ๐Ÿ‡ซ ๐Ÿ‡ฎ  (Broadcast Quantum Fiqih) telah melayani KASYAF (Konsultasi Syariah dan Fiqih) hampir 430 sesi secara gratis/free tanpa syarat, baik secara tatap muka atau jarak jauh, baik lisan maupun tertulis, baik masalah Aqidah, Tafsir, Hadits, Fiqih, Akhlaq, Keluarga, dan lain sebagainya. Sampaikan pertanyaan melalui ustadzjibril@gmail.com atau http://wa.me/6282140888638. Jangan lupa sampaikan *nama dan kota domisili*. Jika pertanyaan mengandung aib, maka identitas penanya akan dirahasiakan.

๐Ÿ“บ Telah diterima donasi dari: (1) Mas *Dwi Y. F.* dari Probolinggo sebesar Rp 350.000,-; (2) Anda berikutnya.

Gawat! Kita Harus Punya Kendaraan Melintas Shirath | Konsultasi Syari'ah & Fiqih (KASYAF) | Bahtsul Masail Taujih Tarjih Fatwa Khutbah

Konsultasi Syari'ah & Fiqih (KASYAF) No. 
*415 - Gawat! Kita Harus Punya Kendaraan Melintas Shirath*

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
_Pertanyaan_
๐Ÿ•ฐ️ Benarkah amal kita di dunia menjadi kendaraan kita untuk melewati shirath yang berada di atas jurang Neraka?

๐Ÿ“ Ditanyakan oleh Bapak *Eko Setiawan* (0822-8763-3259) dari Riau pada _22 Agustus 2021_ via WhatsApp dengan editing

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
_Jawaban_
๐Ÿšง Gambaran tentang jembatan Ash-Shirath dan orang-orang yang melintas di atasnya dapat disimak secara seksama dalam riwayat dari Ibnu Mas‘ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan,
ูŠُูˆุถَุนُ ุงู„ุตِّุฑَุงุทُ ุนَู„َู‰ ุณَูˆَุงุกِ ุฌَู‡َู†َّู…َ ู…ِุซْู„َ ุญَุฏِّ ุงู„ุณَّูŠْูِ ุงู„ْู…ُุฑْู‡ِูِ ู…َุฏْุญَุถَุฉٌ ู…َุฒَู„َّุฉٌ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูƒَู„َุงู„ِูŠุจُ ู…ِู†ْ ู†َุงุฑٍ ูŠَุฎْุชَุทِูُ ุจِู‡َุง ูَู…ُู…ْุณِูƒٌ ูŠَู‡ْูˆِูŠ ูِูŠู‡َุง ูˆَู…َุตْุฑُูˆุนٌ؛ ูˆَู…ِู†ْู‡ُู…ْ ู…َู†ْ ูŠَู…ُุฑُّ ูƒَุงู„ْุจَุฑْู‚ِ ูَู„َุง ูŠَู†ْุดَุจُ ุฐَู„ِูƒَ ุฃَู†ْ ูŠَู†ْุฌُูˆَ ุซُู…َّ ูƒَุงู„ุฑِّูŠุญِ ูَู„َุง ูŠَู†ْุดَุจُ ุฐَู„ِูƒَ ุฃَู†ْ ูŠَู†ْุฌُูˆَ ุซُู…َّ ูƒَุฌَุฑْูŠِ ุงู„ْูَุฑَุณِ ุซُู…َّ ูƒَุณَุนْูŠِ ุงู„ุฑَّุฌُู„ِ ุซُู…َّ ูƒَุฑَู…َู„ِ ุงู„ุฑَّุฌُู„ِ ุซُู…َّ ูƒَู…َุดْูŠِ ุงู„ุฑَّุฌُู„ِ، ุซُู…َّ ูŠَูƒُูˆู†ُ ุขุฎِุฑُู‡ُู…ْ ุฅู†ْุณَุงู†ًุง ุฑَุฌُู„ٌ ู‚َุฏْ ู„َูˆَّุญَุชْู‡ُ ุงู„ู†َّุงุฑُ ูˆَู„َู‚ِูŠَ ูِูŠู‡َุง ุดَุฑًّุง ุซُู…َّ ูŠُุฏْุฎِู„ُู‡ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ุงู„ْุฌَู†َّุฉَ ุจِูَุถْู„ِู‡ِ ูˆَูƒَุฑَู…ِู‡ِ ูˆَุฑَุญْู…َุชِู‡ِ   
_“Jembatan Ash-Shirath dipasangkan di tengah-tengah Jahannam seperti pedang tipis yang sangat tajam. Ia sebuah jembatan yang licin dan menggelincirkan. Di atasnya penuh besi-besi pengait dari api yang siap menyambar, mengait, dan menghempaskan ke Neraka. Di antara mereka ada orang yang melintas secepat petir. Dia berhasil selamat dan tak melekat (bergelantung) pada jembatan. Ada pula yang melintas secepat angin. Dia berhasil selamat dan tak melekat di atasnya. Ada pula yang melintas secepat kuda. Ada pula yang melintas seperti orang berlari. Ada pula yang melintas seperti orang berjalan cepat. Ada pula yang berjalan seperti orang berjalan normal. Dan manusia yang terakhir melintas adalah seorang laki-laki yang telah hangus terbakar api dan menghadapi kesulitan di atasnya, kemudian *dimasukkan Allah ke dalam Surga berkat karunia, kemuliaan, dan rahmat-Nya*.”_ *[Al-Mu’jam Al-Kabir li Ath-Thabrani]*

๐Ÿงถ Para tetua kita dulu sering mengajarkan, hewan qurban kita adalah tunggangan kita ketika melintasi shirath. Akhirnya ajaran tersebut menjadi ‘aqidah (keyakinan). Lantas oleh para content creator dikembangkan, “Segala amal akan mewujud menjadi kendaraan kita untuk meniti shirath.” Sampai-sampai ada youtuber yang memvisualisasikan bahwa amal baik membangun masjid akan berubah jadi kapal untuk melintasi shirath. Padahal ajaran tetua kita dulu itu lebih tepatnya bahasa kiasan, tapi oleh para influencer ditelan mentah-mentah lalu dijabarkan sesuai imajinasinya. Meskipun, memang ada nash-nash hadits yang agak-agak membenarkan, sekali lagi, agak, mungkin hanya 10 % pembenarannya.

๐Ÿ“’ Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani membawakan hadits yang dipastikan tidak valid dari Nabi,
ุนุธู…ูˆุง ุถุญุงูŠุงูƒู… ูุฅู†ู‡ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุตุฑุงุท ู…ุทุงูŠุงูƒู… 
“Pilihlah yang besar hewan-hewan kurban kalian, karena sesungguhnya itu adalah tunggangan-tunggangan kalian nanti di atas shirath.” *[At-Talkhish Al-Habir no. 2364]* “Maknanya, Sesungguhnya hewan qurban itu akan menjadi tunggangan-tunggangan bagi orang yang berkurban, ada juga yang mengatakan, “Sesungguhnya itu akan memudahkan dalam melintas di atas jembatan shirath.”

๐Ÿ“œ ‘Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, Nabi bersabda,
ูŠุฑุฏ ุงู„ู†ุงุณ ูƒู„ู‡ู… ุงู„ู†ุงุฑ ุซู… ูŠุตุฏุฑูˆู† ู…ู†ู‡ุง ุจุฃุนู…ุงู„ู‡ู… ูุฃูˆู„ู‡ู… ูƒู„ู…ุน ุงู„ุจุฑู‚, ุซู… ูƒู…ุฑ ุงู„ุฑูŠุญ, ุซู… ูƒุญุถุฑ ุงู„ูุฑุณ, ุซู… ูƒุงู„ุฑุงูƒุจ, ุซู… ูƒุดุฏ ุงู„ุฑุฌุงู„، ุซู… ูƒู…ุดูŠู‡ู…
_“Seluruh manusia mendatangi Neraka kemudian *mereka melintasinya dengan amal-amal mereka*, yang paling cepat adalah seperti kilatan petir, kemudian seperti hembusan angin, kemudian seperti larinya kuda, kemudian seperti penunggang (unta), kemudian seperti orang berlari, kemudian seperti orang berjalan biasa.”_ *[Al-Mustadrak li Al-Hakim 2/407]*

๐Ÿ“œ Hadits ini lebih dikuatkan lagi statusnya oleh hadits, 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ูˆَุชُุฑْุณَู„ُ ุงู„ْุฃَู…َุงู†َุฉُ ูˆَุงู„ุฑَّุญِู…ُ، ูَุชَู‚ُูˆู…َุงู†ِ ุฌَู†َุจَุชَูŠِ ุงู„ุตِّุฑَุงุทِ ูŠَู…ِูŠู†ًุง ูˆَุดِู…َุงู„ًุง، ูَูŠَู…ُุฑُّ ุฃَูˆَّู„ُูƒُู…ْ ูƒَุงู„ْุจَุฑْู‚ِ ” ู‚َุงู„َ: ู‚ُู„ْุชُ: ุจِุฃَุจِูŠ ุฃَู†ْุชَ ูˆَุฃُู…ِّูŠ ุฃَูŠُّ ุดَูŠْุกٍ ูƒَู…َุฑِّ ุงู„ْุจَุฑْู‚ِ؟ ู‚َุงู„َ: ” ุฃَู„َู…ْ ุชَุฑَูˆْุง ุฅِู„َู‰ ุงู„ْุจَุฑْู‚ِ ูƒَูŠْูَ ูŠَู…ُุฑُّ ูˆَูŠَุฑْุฌِุนُ ูِูŠ ุทَุฑْูَุฉِ ุนَูŠْู†ٍ؟ ุซُู…َّ ูƒَู…َุฑِّ ุงู„ุฑِّูŠุญِ، ุซُู…َّ ูƒَู…َุฑِّ ุงู„ุทَّูŠْุฑِ، ูˆَุดَุฏِّ ุงู„ุฑِّุฌَุงู„ِ، ุชَุฌْุฑِูŠ ุจِู‡ِู…ْ ุฃَุนْู…َุงู„ُู‡ُู…ْ ูˆَู†َุจِูŠُّูƒُู…ْ ู‚َุงุฆِู…ٌ ุนَู„َู‰ ุงู„ุตِّุฑَุงุทِ ูŠَู‚ُูˆู„ُ: ุฑَุจِّ ุณَู„ِّู…ْ ุณَู„ِّู…ْ، ุญَุชَّู‰ ุชَุนْุฌِุฒَ ุฃَุนْู…َุงู„ُ ุงู„ْุนِุจَุงุฏِ، ุญَุชَّู‰ ูŠَุฌِูŠุกَ ุงู„ุฑَّุฌُู„ُ ูَู„َุง ูŠَุณْุชَุทِูŠุนُ ุงู„ุณَّูŠْุฑَ ุฅِู„َّุง ุฒَุญْูًุง “، ู‚َุงู„َ: «ูˆَูِูŠ ุญَุงูَุชَูŠِ ุงู„ุตِّุฑَุงุทِ ูƒَู„َุงู„ِูŠุจُ ู…ُุนَู„َّู‚َุฉٌ ู…َุฃْู…ُูˆุฑَุฉٌ ุจِุฃَุฎْุฐِ ู…َู†ِ ุงُู…ِุฑَุชْ ุจِู‡ِ، ูَู…َุฎْุฏُูˆุดٌ ู†َุงุฌٍ، ูˆَู…َูƒْุฏُูˆุณٌ ูِูŠ ุงู„ู†َّุงุฑِ»
_“Lalu diutuslah amanah dan rahim (tali persaudaraan), keduanya berdiri di samping kiri dan kanan shirath tersebut. Orang yang pertama melewatinya seperti kilat.“ Aku bertanya, “Dengan bapak dan ibuku (aku korbankan) demi engkau. Adakah sesuatu seperti kilat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab , “Tidakkah kalian pernah melihat kilat, bagaimanakah kilat lewat (datang) dalam sekejap mata? Kemudian ada yang melewatinya seperti angin, kemudian seperti burung, dan seperti kuda yang berlari kencang. *Mereka melintas sesuai dengan amal perbuatan mereka.* Ketika itu, Nabi kalian berdiri di atas shirath sambil berkata, “Ya Allah, selamatkanlah! Selamatkanlah! Sampai (giliran) para hamba yang lemah amalnya, sehingga datanglah orang tersebut lalu dia tidak bisa melewatinya kecuali dengan merangkak.” Beliau bersabda (lagi), “Di kedua sisi shirath terdapat besi pengait yang bergantungan untuk menyambar siapa saja yang diperintahkan untuk disambar. Maka ada yang terpeleset namun selamat dan ada pula yang terjungkir ke dalam Neraka.“_ *[Shahih Muslim no. 195]*

๐ŸŸ Hadits-hadits inilah yang berhasil saya telusuri, yang mungkin ditelan mentah-mentah lalu divisualisasikan, diimajinasikan, diwujudkan bahwa amal manusia akan menjelma jadi kendaraan yang beraneka ragam yang berbentuk tertentu untuk melintasi shirath. Maklumlah, content creator mau tidak mau apa saja dilakukan, demi viewers, demi subscriber, sampai-sampai kejadian-kejadian Akhirat juga dibikin. Sebaiknya dihindari! Tapi bagaimana lagi, nyatanya dari visualisasi itu kadang orang-orang bejat jadi taubat, orang-orang yang jauh dari agama jadi mendekat. Seharusnya diimbangi dengan deskripsi atau caption di bawah video visualisasi tersebut dengan penjelasan yang detil, minimal penjelasan saya ini dicopas di situ, agar jangan sampai jadi ‘aqidah yang salah bahwa amal-amal akan mewujud secara fisik jadi kendaraan melintas shirath.

⛺ Poin terpenting untuk diingat, sebagaimana teks hadits Nabi di atas, bahwa memang kecepatan manusia melintas shirath sesuai dengan amal ketika di dunia. Siapa yang buruk amalnya akan tertatih-tatih bahkan terpeleset masuk ke jurang Neraka dan berada di dalamnya merasakan adzab sesuai amalnya. Siapa yang baik amalnya akan cepat sesuai nilai amal baiknya, semakin banyak dan besar amal baiknya selama di dunia maka akan amat sangat cepat melintasi shirath bahkan sama sekali tidak merasakan panasnya Neraka.

๐Ÿต️ Lebih dari itu, apapun informasi tentang Akhirat harus kita crosscheck dengan teliti dengan bimbingan para ulama dan teks-teks referensi primer (Al-Qur`an dan As-Sunnah yang diajarkan secara turun-temurun), bukan bimbingan content creator maupun influencer.

๐Ÿ“ Dijawab oleh Mas *Jibril* (Haji Brilly) 
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
๐Ÿ“บ ๐Ÿ‡ง ๐Ÿ‡จ ๐Ÿ‡ถ ๐Ÿ‡บ ๐Ÿ‡ซ ๐Ÿ‡ฎ  (Broadcast Quantum Fiqih) telah melayani KASYAF (Konsultasi Syariah dan Fiqih) hampir 430 sesi secara gratis/free tanpa syarat, baik secara tatap muka atau jarak jauh, baik lisan maupun tertulis, baik masalah Aqidah, Tafsir, Hadits, Fiqih, Akhlaq, Keluarga, dan lain sebagainya. Sampaikan pertanyaan melalui ustadzjibril@gmail.com atau http://wa.me/6282140888638. Jangan lupa sampaikan *nama dan kota domisili*. Jika pertanyaan mengandung aib, maka identitas penanya akan dirahasiakan.

๐Ÿ“บ Telah diterima donasi dari: (1) Mas *Dwi Y. F.* dari Probolinggo sebesar Rp 350.000,-; (2) Anda berikutnya.

Kamis, 09 September 2021

Sikap Tepat Terhadap Kitab Suci Selain Al-Quran dan Kisah Israiliyyat | KASYAF (Konsultasi Syariah & Fiqih) | UBER (Ust. H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.)

KASYAF (Konsultasi Syari'ah & Fiqih) No. 

*395 - Sikap Tepat Terhadap Kitab Suci Selain Islam dan Kisah Israiliyyat*


๐Ÿ‡ง ๐Ÿ‡จ ๐Ÿ‡ถ ๐Ÿ‡บ ๐Ÿ‡ซ ๐Ÿ‡ฎ 


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

_Pertanyaan_

๐Ÿ“ Bolehkah kita mensalah2 kan kitab orng yahudi dan nasrani.  Katanya, Di larang di baca karna berbahaya, khawatir benar nnti d salahkan Dan salah di benarkan. Klo menyalah2kan keyakinan mereka tadz?


๐Ÿ“ Ditanyakan oleh Bapak *E. S.* (+62 822-8763-3259) dari Purworejo pada _22 Maret 2021_ via WhatsApp tanpa editing


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

_Jawaban_

๐ŸŽช Allah Al-Haqq hanya menurunkan wahyu-Nya dalam dua bentuk yang bisa dipegang oleh manusia setelah dicatat oleh manusia dalam bentuk tulisan yaitu bentuk shuhuf dan kitab. Shuhuf artinya lembaran, kitab artinya buku. Allah hanya menurunkan empat kitab yaitu Zabur, Taurat, Injil dan Al-Quran. Semuanya disebut Al-Kitab. Adapun shuhuf yang tercatat resmi oleh hadits atau atsar, diturunkan-Nya kepada Nabi Syits bin Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Ibrahim bin Azar, Nabi Dawud, dan Nabi Musa. 


๐ŸŠ Zabur turun kepada Nabi Dawud. Taurat diturunkan Allah kepada Nabi Musa dan juga menjadi kitab suci nabi-nabi setelahnya diantaranya Nabi Harun dan Nabi Yahya bin Zakariyya. Hingga diutuslah Nabi Isa dengan Injil, dan Injil itu sebagai pembenar bagi Taurat. Hingga diutuslah Nabi Muhammad dengan Al-Qur'an, dan Al-Qur'an diposisikan oleh Allah sebagai pembenar (mushaddiq) dan batu ujian/verifikator (muhaimin) terhadap kitab-kitab yang lain yaitu Zabur, Taurat dan Injil yang jelas-jelas terkontaminasi isinya oleh manusia-manusia kotor. *[QS. Al-Maidah (5): 48 dan QS. Ali 'Imran (3): 3 dan QS. An-Nahl (16): 63-64]* 


๐Ÿฅ Maka apapun informasi yang kita dapatkan dari Zabur, Taurat dan Injil harus dikonfrontasikan dalam artian ditimbang-timbang dengan apa yang ada dalam Al-Quran, tidak boleh sebaliknya. Apa yang dalam Zabur, Taurat, Injil dibenarkan oleh Al-Quran maka harus kita yakini kebenarannya, jangan disalah-salahkan. Begitupun sebaliknya. Masalahnya, Zabur, Taurat dan Injil rawan dan telah diselewengkan sebagian besar isinya secara teks oleh orang-orang jahat, dan kita tidak bisa mengakses yang otentik karena tidak diriwayatkan secara turun-temurun dan bersambung. 


๐Ÿต Hanya Zabur, Taurat dan Injil serta Al-Quran yang merupakan kitab suci samawi. Selain keempatnya adalah kitab suci ardhi artinya gubahan/susunan manusia, bukan dari Allah, Satu-satunya Tuhan yang benar. Contoh kitab suci ardhi adalah kitab suci para ahli sihir yang masih diamalkan hingga hari ini, kitab suci tersebut disusun oleh para jin syaithani pada masa Nabi Sulaiman bin Dawud, ketika Nabi Sulaiman wafat, kitab suci tersebut ditemukan oleh umatnya di bawah kursi kerajaannya, dan para jin syaithani lah yang menyimpannya di situ untuk menciptakan framing bahwa Sulaiman adalah ahli sihir. Sayangnya, Zabur, Taurat dan Injil yang semula merupakan kitab suci samawi, kini tidak 100 % murni dari Allah, tapi sudah dikontaminasi dengan kalimat-kalimat dari periwayatnya. Ini kami terangkan dalam Mushaf Terjemah At-Tadabbur yang kami susun dan terbitkan


๐Ÿฉ Terus terang, kami berkali-kali terheran-heran dengan sikap sebagian muslim yang pernah kami temui, yang berlagak faqih (paham agama) dengan sibuk membolak-balik lembaran-lembaran Zabur, Taurat dan Injil yang masih diterbitkan sampai hari ini, sekali lagi padahal tidak otentik, sementara mereka tertangkap basah tidak antusias membaca apalagi mempelajari tafsir apalagi menghapal Al-Quran. Bahkan di play store sampai ada aplikasi TZI (Taurat, Zabur, Injil). 


๐Ÿ‡ Kita dilarang membaca apalagi mempelajari TZI ketika kita punya iman dan ilmu syar'i yang lemah. Bila ilmu syar'i kita sudah kuat, minimal hapal dan bisa menerjemahkan Al-Quran, maka boleh kita membaca TZI dalam rangka komparasi guna menguatkan iman terhadap kebenaran Al-Quran, bukan untuk mencari pembenaran atas penyalahan terhadap Al-Quran. 


ุนَู†ْ ุฌَุงุจِุฑِ ุจْู†ِ ุนَุจْุฏِ ุงู„َّู„ู‡ ุฃَู†َّ ุนُู…َุฑَ ุจْู†َ ุงู„ْุฎَุทَّุงุจِ ุฃَุชَู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ุจِูƒِุชَุงุจٍ ุฃَุตَุงุจَู‡ُ ู…ِู†ْ ุจَุนْุถِ ุฃَู‡ْู„ِ ุงู„ْูƒُุชُุจِ ูَู‚َุฑَุฃَู‡ُ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ูَุบَุถِุจَ ูَู‚َุงู„َ: ุฃَู…ُุชَู‡َูˆِّูƒُูˆู†َ ูِูŠู‡َุง ูŠَุง ุงุจْู†َ ุงู„ْุฎَุทَّุงุจِ، ูˆَุงู„َّุฐِูŠ ู†َูْุณِูŠ ุจِูŠَุฏِู‡ِ  ู„َู‚َุฏْ ุฌِุฆْุชُูƒُู…ْ ุจِู‡َุง ุจَูŠْุถَุงุกَ ู†َู‚ِูŠَّุฉً ู„َุง ุชَุณْุฃَู„ُูˆู‡ُู…ْ ุนَู†ْ ุดَูŠْุกٍ ูَูŠُุฎْุจِุฑُูˆูƒُู…ْ ุจِุญَู‚ٍّ ูَุชُูƒَุฐِّุจُูˆุง ุจِู‡ِ ุฃَูˆْ ุจِุจَุงุทِู„ٍ ูَุชُุตَุฏِّู‚ُูˆุง ุจِู‡ِ، ูˆَุงู„َّุฐِูŠ ู†َูْุณِูŠ ุจِูŠَุฏِู‡ِ ู„َูˆْ ุฃَู†َّ ู…ُูˆุณَู‰ ูƒَุงู†َ ุญَูŠًّุง ู…َุง ูˆَุณِุนَู‡ُ ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْ ูŠَุชَّุจِุนَู†ِูŠ


๐Ÿ“œ Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Suatu saat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa sebuah kitab yang ia dapatkan dari sebagian Ahli Kitab. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya. Beliau kemudian marah dan bersabda, _“Apakah engkau termasuk orang yang bingung, wahai putra Al-Khaththab? Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang putih bersih. Jangan kalian bertanya sesuatu kepada mereka (Ahlul Kitab) karena (boleh jadi) mereka mengabarkan al-haqq kepada kalian namun kalian mendustakan al-haqq tersebut, atau mereka mengabarkan satu kebatilan lalu kalian membenarkan kebatilan tersebut. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalam masih hidup niscaya tidak diperkenan baginya melainkan dia harus mengikutiku.”_ *[Musnad Ahmad no. 14623]*


๐ŸŽ Jadi, sikap terhadap isi TZI adalah tidak kita percayai 100 % tidak pula kita dustakan 100 %, hanya kita benarkan jika benar menurut Al-Quran dan As-Sunnah, kita salahkan jika salah menurut Al-Quran dan As-Sunnah. 


ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ู‡ُุฑَูŠْุฑَุฉَ ู‚َุงู„َ: ูƒَุงู†َ ุฃَู‡ْู„ُ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ ูŠَู‚ْุฑَุกُูˆู†َ ุงู„ุชَّูˆْุฑَุงุฉَ ุจِุงู„ْุนِุจْุฑَุงู†ِูŠَّุฉِ ูˆَูŠُูَุณِّุฑُูˆู†َู‡َุง ุจِุงู„ْุนَุฑَุจِูŠَّุฉِ ู„ِุฃَู‡ْู„ِ ุงู„ْุฅِุณْู„َุงู…ِ ูَู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ: ู„َุง ุชُุตِุฏِّู‚ُูˆุง ุฃَู‡ْู„َ  ุงู„ْูƒِุชَุงุจَ ูˆَู„َุง ุชُูƒَุฐِّุจُูˆู‡ُู…ْ، ูˆَู‚ُูˆู„ُูˆุง: ุขู…َู†َّุง ุจِุงู„ู„ู‡ِ ูˆَู…َุง ุฃُู†ْุฒِู„َ ุงู„ْุขูŠَุฉُ


๐Ÿ“œ Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma beliau berkata, “Dahulu Ahlul kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan mereka tafsirkan dengan bahasa Arab kepada ahlul Islam (muslimin).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Jangan kalian percayai mereka jangan pula kalian dustakan namun katakanlah (seperti dalam ayat), Katakanlah (hai orang-orang mukmin), ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’kub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabbnya. Kami tidakmembeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’ (QS. Al-Baqarah (2): 136)”_ *[Fat-h Al-Bari 5/291 dan 8/170); As-Sunan Al-Kubra (10/163)]*


๐ŸŸ Meski demikian, kita tetap wajib menghormati kitab-kitab sebelum Al-Quran dengan niat menghormati isinya yang masih otentik dari Allah Al-Hadi. Kita pun menerapkan hukum-hukum kitab-kitab sebelumnya kepada masing-masing pemeluknya. Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi menerangkan, 


ู‚ูˆู„ู‡)  ูˆูŠุณู† ุงู„ู‚ูŠุงู… ู„ู‡) ุฃูŠ ู„ู„ู…ุตุญู ู‚ุงู„ ููŠ ุงู„ุชุญูุฉ ุตุญ ุฃู†ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู… ู„ู„ุชูˆุฑุงุฉ ูˆูƒุฃู†ู‡ ู„ุนู„ู…ู‡ ุจุนุฏู… ุชุจุฏูŠู„ู‡ุง ุงู‡


“([Seseorang] dianjurkan untuk berdiri karenanya), yaitu karena menghormati mushaf. Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan bahwa ada sebuah hadits shahih menyebutkan bahwa Rasulullah berdiri untuk menghormatik Kitab Taurat seakan dia yakin bahwa tidak ada perubahan di dalamnya,” *[I’anatut Thalibin, [tanpa catatan kota, Dar Ihya Al Kutub Al Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 69]*


๐Ÿ‰ Itu sikap kita terhadap shuhuf dan kitab sebelum Al-Quran. Adapun terhadap kisah-kisah Israiliyyat itu sama sikap kita, meski tidak termasuk dalam cetakan kitab suci. Sebab, mau tidak mau, ada kalimat-kalimat dalam Al-Qur'an yang mudah dipahami jika dibantu penafsirannya dengan kisah-kisah Israiliyyat. Seperti kisah kagetnya Nabi Ya'qub saat melihat anak-anaknya yang bermuslihat dengan baju berlumuran darah atas nama baju Nabi Yusuf. 


ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ูƒَุจْุดَุฉَ ุงู„ุณَّู„ُูˆู„ِูŠ، ุนَู†ْ ุนَุจْุฏِ ุงู„ู„ู‡ِ ุจْู†ِ ุนَู…ْุฑٍูˆ ู‚َุงู„: ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ : ุจَู„ِّุบُูˆุง ุนَู†ِّูŠ ูˆَู„َูˆْ ุขَูŠَุฉً، ูˆَุญَุฏِّุซُูˆุง ุนَู† ุจَู†ِูŠ ุฅِุณْุฑَุงุฆِูŠู„َ ูˆَู„َุง ุญَุฑَุฌَ، ูˆَู…َู†ْ ูƒَุฐَุจَ ุนَู„َูŠَّ ู…ُุชَุนَู…ِุฏًุง ูَู„ْูŠَุชَุจَูˆَّุฃْ ู…َู‚ْุนَุฏَู‡ُ ู…ِู†َ ุงู„ู†َّุงุฑِ


๐Ÿ“œ Dari Abu Kabsyah As-Saluli dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Sampaikan dariku walaupun satu ayat, sampaikan berita dari Bani Israil, tidak mengapa. Barang siapa berdusta atasku dengan sengaja, hendaknya dia menempatkan dirinya dalam Neraka.”_ *[Sunan At-Tirmidzi]*


๐Ÿ‘ Begitu pula, menyalahkan keyakinan Yahudi dan Nashrani harus berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah yang diajarkan secara turun-temurun oleh para ulama. Tidak bisa sembarangan, apalagi kita bukan ulama. 


๐Ÿ“ Dijawab oleh *Abah Jibril (Haji Brilly)*

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

๐Ÿ“บ ๐Ÿ‡ง ๐Ÿ‡จ ๐Ÿ‡ถ ๐Ÿ‡บ ๐Ÿ‡ซ ๐Ÿ‡ฎ  (Broadcast Quantum Fiqih) telah melayani KASYAF (Konsultasi Syariah dan Fiqih) hampir 430 sesi secara gratis/free tanpa syarat, baik secara tatap muka atau jarak jauh, baik lisan maupun tertulis, baik masalah Aqidah, Tafsir, Hadits, Fiqih, Akhlaq, Keluarga, dan lain sebagainya. Sampaikan pertanyaan melalui ustadzjibril@gmail.com atau http://wa.me/6282140888638. Jangan lupa sampaikan nama dan kota domisili. Jika pertanyaan mengandung aib, maka identitas penanya akan dirahasiakan.  


๐Ÿ˜Ž Alhamdulillah, BCQUFI telah melengkapi perpustakaan dengan koleksi Kitab berbahasa Arab mulai 1 Februari 2021 untuk meningkatkan kualitas layanan. Belanja Kitab menelan biaya Rp 1.261.900,- untuk Kitab Hasyiyah Shawi (4 jilid), Faidh Al-Qadir (6 jilid) dan Ihya' 'Ulumiddin (4 jilid). Terimakasih kami haturkan kepada donatur yang turut berpartisipasi menyumbangkan dana untuk belanja Kitab. Semoga layanan BCQUFI semakin bagus. *Kami masih membutuhkan banyak kitab klasik berbahasa Arab untuk referensi.* Total ada 25 jilid Kitab Arab dan hampir 1.000 referensi buku berbahasa Indonesia milik BCQUFI.

Senin, 13 Januari 2020

Janda Beranak Siap Dipoligami Pria Beristri dan Beranak Karena CLBK di Depan Ka'bah | Konsultasi Syariah dan Fiqih (KASYAF) | UBER (Ustadz H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.)

๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ 

๐Ÿ‡ฏ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ณ ๐Ÿ‡ฉ ๐Ÿ‡ฆ  ๐Ÿ‡ง ๐Ÿ‡ช ๐Ÿ‡ท ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ณ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ฐ  
๐Ÿ‡ธ ๐Ÿ‡ฎ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ต  ๐Ÿ‡ฉ ๐Ÿ‡ฎ ๐Ÿ‡ต ๐Ÿ‡ด ๐Ÿ‡ฑ ๐Ÿ‡ฎ ๐Ÿ‡ฌ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ฒ ๐Ÿ‡ฎ  
๐Ÿ‡ธ ๐Ÿ‡ฎ ๐Ÿ‡ท ๐Ÿ‡ท ๐Ÿ‡ฎ  ๐Ÿ‡ต ๐Ÿ‡ท ๐Ÿ‡ฎ ๐Ÿ‡ฆ  
๐Ÿ‡ง ๐Ÿ‡ช ๐Ÿ‡ท ๐Ÿ‡ฎ ๐Ÿ‡ธ ๐Ÿ‡น ๐Ÿ‡ท ๐Ÿ‡ฎ  ๐Ÿ‡ฉ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ณ  
๐Ÿ‡ง ๐Ÿ‡ช ๐Ÿ‡ท ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ณ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ฐ  
๐Ÿ‡จ ๐Ÿ‡ฑ ๐Ÿ‡ง ๐Ÿ‡ฐ  ๐Ÿ‡ฉ ๐Ÿ‡ฎ  
๐Ÿ‡ฉ ๐Ÿ‡ช ๐Ÿ‡ต ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ณ  ๐Ÿ‡ฐ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ง ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ญ  

#⃣ #broadcastquantumfiqih
No.: KS/6/I/20/QUFI
Topik: 1⃣ _Konsultasi Syariah & Fiqih (KASYAF)_
Rubrik: _quantumfiqihibadah_

๐Ÿ‡ง‌๐Ÿ‡จ‌๐Ÿ‡ถ‌๐Ÿ‡บ‌๐Ÿ‡ซ‌๐Ÿ‡ฎ‌

Konsultasi Syariah & Fiqih (KASYAF) No. *330 - Janda Beranak Siap Dipoligami Sirri Pria Beristri dan Beranak CLBK di Depan Ka'bah*

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
_Pertanyaan_
Assalamualaikum
๐Ÿš— Sy seorang janda sdh 2th dan 1 th ini kenal dg seorang pria yg sdh punya istri dan kami ber komitmen mau menikah. Ttp ada kendala dari ibu nya  dan istrinya blm menyetujui Dan sy  berat melangkah kalo tdk dpt ijin dari ibu nya pria tersebut ..  Apakah menikah tanpa restu ibu nya pernikahan kami bermasalah ... ?  Motivasi sy untuk menikah dg pria itu ingin mengajak dia keluar dari zona riba karna beliau pengusaha jual beli mobil dg pinjaman bank yg  ber em em. Status sy janda bercerai hidup sy punya anak 3 orang laki2 semua anak sy yg nmr 1 dan 2 sdh kuliah dan yg kecil smp daqu klas 3. Status pria  Punya anak 5 .. Anak 1 dan 2 dari istri 1 ttp sdh bercerai .. 5 menduda menikah lagi atas pilihan ibunya dan punya anak 3 orang  Kami sering wa vc dan tlp Sy sdh jengah dan takut dg dosa kami ..  Mhn solusi nya pak ustadz Pria ini tinggal nya di padang  dan sy di bogor 
Kalo kami menikah dg jarak yg lumayan jauh pasti ada resiko yg harus kami tanggung dan kami berencana menikah siri dl .. klg besar dari masing2 klg blm kami beri tau..  Itu baru rencana ..  Niat sy hanya ingin menjadi jalan kebaikan . Dan tdk ada niat merusak rmh tangga mereka ..  Sy sdh pernah bertemu dg ibu beberapa kali  Dg istrinya sy sempat ketemu waktu lagi sm2 ber haji di mekah dan saat itu sy blm ada rasa dg pria itu .. ttp pria itu kata nya sdh ada rasa kpd sy  Pria itu teman waktu sekolah smp dan sekian puluh tahun ga ketemu ya ketemu nya di masjidil haram bersama istrinya. Sy ingin bergandengan tangan sm istri nya untuk menemanin memotivasi mendukung pria ini bisa keluar dari pengusaha yg banyak riba nya ..  Usaha ini sdh di jalanin ber tahun tahun.. Orang tua sy sdh meninggal sy punya kakak dan sy sudah sampaikan niat baik sy ke kakak dan anak2 sy .. pd intinya mereka tdk melarang asal jangan sampai merusak rmh tangga mereka yg skr. Sy punya klinik sy bidan praktek .. jadi sy tdk lah tergiur dg harta yg dia miliki pak ustadz

๐Ÿ“ Ditanyakan oleh Ibu *S* di Bogor pada _1 Nopember 2019_ via Whatsapp

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
_Jawaban_
Wa'alaikumussalam
๐Ÿ… Ibu mohon maaf baru sempat membaca pertanyaan Ibu karena banyaknya orang yang berkonsultasi dan juga kegiatan pesantren saya. Berarti, inti pertanyaannya, sahkah pernikahan Ibu S. tanpa restu dari calon mertua dan istri resmi calon suami? 

๐Ÿฅฏ Intinya, sah pernikahan tanpa restu orang tua suami. Ini soal sah atau tidak ya. Tapi dalam kehidupan sehari-hari rumah tangga, tentu tidak hanya soal Aqad nikahnya, ada banyak dimensi yang harus dipikirkan. Apalagi, bukankah akan berat bila ternyata setelah menikah, mertua malah memusuhi Ibu S.? 

๐Ÿ‰ Lebih dari itu, memang Poligami secara syariat tidak diwajibkan ada izin dari istri2 yang sudah lebih dulu dinikahi suami. Pernah kami jawab dalam salah satu Konsultasi. Namun secara Fiqih, izin istri2 pendahulu itu wajib. Lalu kemudian, bila disepakati akan nikah sirri, bukankah potensi kerugian di kemudian hari, hanya akan ditanggung sendiri oleh Ibu S., bahkan juga akan ditanggung anak2 Ibu?

๐Ÿง€ Sudah ada hampir 400 tanya jawab yg saya sampaikan secara tertulis, dari 400 tersebut, ada sekitar 20an tanya jawab yang isinya seputar nikah sirri, hampir semua wanita yang dinikahi sirri Menyesal. Bukan nikah Sirri itu haram mutlak, tapi makruh saja, apalagi bila berdampak/berpotensi buruk, bisa makruh li at-tahrim (mendekati haram). 

๐Ÿฅ‘ Lagipula, niat untuk membantu Sang Pria Idaman bisa terbebas dari riba itu kan tidak harus dengan berusaha menjadi istrinya kan? Kami menduga, niat tersebut bukan tujuan utama pernikahan yang diidam-idamkan. Semoga dugaan kami salah. Kalau memang betul-betul niat hanya untuk membantu Sang Pria Idaman terbebas dari riba kan, bisa dengan melalui istrinya.

๐Ÿ‡ Kami tetap menghargai Ibu S. yang ingin mengesahkan hubungan. Hanya saja, menjadi istri KEDUA apalagi SIRRI itu superberat lho. Amat sangat tidak mudah. Tidak seindah yang dibayangkan. Saran kami, kalau memang sudah bulat tekad untuk jadi istri kedua, tempuhlah jalur resmi dan tercatat di KUA, demi keamanan diri dan anak2. 

๐ŸŽช Apa yang terjadi di depan Ka'bah TIDAK SELALU berarti itu pilihan terbaik dari Allรขh yang harus dan tidak boleh tidak kita tindak lanjut. Tidak selalu. Abdullah bin Az-Zubair dulu wafat terbunuh oleh Al Hajjaj di depan Ka'bah. Padahal 'Abdullah bin Az-Zubair adalah cucu dari Abu Bakar Ash-Shiddiq. 

๐Ÿ“ฆ Jujur, semua laki2, sejak zaman Nabi Adam itu sudah tabiatnya senang bila punya istri banyak. Hanya saja, tidak semua laki2 itu berhasil bertanggung jawab dengan baik terhadap semua istri dan anak2nya.

๐Ÿ“œ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ู…َู†ْ ูƒَุงู†َุชْ ู„َู‡ُ ุงู…ْุฑَุฃَุชَุงู†ِ ูَู…َุงู„َ ุฅِู„َู‰ ุฅِุญْุฏَุงู‡ُู…َุง ุฌَุงุกَ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ ูˆَุดِู‚ُّู‡ُ ู…َุงุฆِู„ٌ
_“Siapa yang memiliki dua orang istri lalu ia cenderung kepada salah seorang diantara keduanya, maka ia datang pada hari kiamat dalam keadaan badannya miring.”_ *[Sunan Abu Dawud no. 2133]*

๐Ÿ› Menurut kami, sebaiknya, jalani dulu pendekatan dengan istrinya, betul-betul pendekatan yang Ikhlash lillah, setahun, dua tahun, tiga tahun. Sambil lalu saja, tidak perlu gencar. Sepanjang Ibu S. masih mampu bekerja menafkahi diri sendiri dan anak2. Sembari disertai doa yang kuat untuk cita2 tersebut, setahun, dua tahun, tiga tahun. 

๐Ÿฉ Berkomunikasi dengan istrinya cukup tanpa sepengetahuan Sang Pria Idaman. Agar keikhlashan Ibu tetap terjaga. Ikhlash dalam mendakwahkan haramnya riba. Nanti Allah yang atur gimana masa depan Ibu. Istikharah jangan lupa. 

๐Ÿ•‹ Allah sudah berjanji akan membereskan urusan orang-orang yang mau pasrah kepada-Nya, 
ูˆَู…َู†ْ ูŠَุชَูˆَูƒَّู„ْ ุนَู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ูَู‡ُูˆَ ุญَุณْุจُู‡ُ
_“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”._ *[QS. Ath-Thalaq: 3]* Sebaliknya, bila kita pasrah kepada diri kita sendiri alias tidak bergantung kepada Allรขh, malah merasa diri kita pasti bisa membereskan urusan kita sendiri, Allรขh akan jadikan urusan kita tidak beres. 

๐Ÿ”ฎ Soal CLBK atau ketertarikan, coba dilumpuhkan alias dilupakan dulu, tentu Ibu S. sudah menyadari, pernikahan itu sebenarnya bukan untuk melampiaskan rasa cinta, tapi pernikahan itu untuk menjalankan perintah Allah. 

๐Ÿฎ Bila pernikahan tidak karena ingin menjalankan perintah-perintah Allah, maka pernikahan dan usaha mempertahankan pernikahan akan menjadi terasa sangat berat dan menyakitkan. 

๐Ÿ“’ Yahya bin Yahya An Naisaburi mengatakan bahwa beliau berada di dekat Sufyan bin Uyainah ketika ada seorang yang menemui Ibnu Uyainah lantas berkata, “Wahai Abu Muhammad, aku datang ke sini dengan tujuan mengadukan fulanah -yaitu istrinya sendiri-. Aku adalah orang yang hina di hadapannya”. Beberapa saat lamanya, Ibnu Uyainah menundukkan kepalanya. Ketika beliau telah menegakkan kepalanya, beliau berkata, “Mungkin, dulu engkau menikahinya karena ingin meningkatkan martabat dan kehormatan?”. “Benar, wahai Abu Muhammad”, tegas orang tersebut. Ibnu Uyainah berkata, “Siapa yang menikah karena menginginkan kehormatan maka dia akan hina. Siapa yang menikah karena cari harta maka dia akan menjadi miskin. Namun siapa yang menikah karena agamanya maka akan Allah kumpulkan untuknya harta dan kehormatan di samping agama”. *[Tahdzib Al-Kamal 11/194-195, Maktabah Syamilah]*

๐Ÿ“œ Nabi Muhammad bersabda, 
ู„َุง ุชَู†ْูƒِุญُูˆุง ุงู„ู†ِّุณَุงุกَ ู„ِุญُุณْู†ِู‡ِู†َّ ูَู„َุนَู„َّู‡ُ ูŠُุฑْุฏِูŠู‡ِู†َّ ، ูˆَู„َุง ู„ِู…َุงู„ِู‡ِู†َّ ูَู„َุนَู„َّู‡ُ ูŠُุทْุบِูŠู‡ِู†َّ ، ูˆَุงู†ْูƒِุญُูˆู‡ُู†َّ ู„ِู„ุฏِّูŠู†ِ ، ูˆَู„َุฃَู…َุฉٌ ุณَูˆْุฏَุงุกُ ุฎَุฑْู‚َุงุกُ ุฐَุงุชُ ุฏِูŠู†ٍ ุฃَูْุถَู„ُ
_“Janganlah kalian menikahi perempuan karena cantiknya. Boleh jadi kecantikan tersebut akan membinasakannya. Jangan pula karena hartanya karena harta boleh jadi akan menyebabkannya melampaui batas. Menikahlah karena agama. Sungguh budak hitam yang cacat namun baik agamannya itu yang lebih baik”_ *[Sunan Ibnu Majah no 1859]* 

♻ Usia kami masih lebih muda dari Ibu, kami hanya mencoba menjawab berdasarkan ilmu. Kami yakin, asam garam kehidupan, Ibu sudah lebih tahu. Kami bukan menghalang-halangi niat baik Ibu S. Hanya kami ingin berbagi ilmu. 

๐Ÿ“ Dijawab oleh *UBER* (Ustadz H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.)
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
๐Ÿ“บ Follow aneka medsos kami di kontakk.com/@quantumfiqih

๐ŸŒธ Belanja di *GUDANG KITAB SUCI* untuk mendukung Quantum Fiqih Islamic Broadcast. Kepoin Instagram @gudangkitabsucialquran atau langsung order via https://wa.me/6282140888638?text=Assalamu%27alaikum

Jumat, 10 Januari 2020

Khawatir Kena Najis Saat Berinteraksi Bertransaksi Berhubungan Bermuamalah dengan Orang Kafir Nonmuslim | Konsultasi Syariah dan Fiqih (KASYAF) | UBER (Ustadz H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.)


Konsultasi Syariah dan Fiqih No. 337 - Khawatir Kena Najis Saat Bermuamalah dengan Orang Kafir


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

_Pertanyaan_

Assalamualaikum ustadz

Ustadz saya mau bertanya: Satu, bagaimana semisal kita naik gojek online yang mana sopirnya itu orang Kafir. Saya khawatir ada najis besar. Dua, Misalkan dijalan ada mobil yg ngangkut anjing-anjing. Nah misal kita bermotor lewat berpapasan dgn mobil tersebut. Kan suka anginan klo berkendara. Apakah membuat pakaian kita mnjd najis? Tiga, adik saya kan punya teman. Namanya adit. Adit punya anjing di rumahnya. Nah adik saya sering ikut naik motor adit saat pergi dan pulang sekolah. Apakah pakaian adik saya sewaktu duduk dimotor adit jadi najis besar? Saya was-was mungkin pada saat sehabis bermain dgn anjingnya atau keluarga si adit menaiki motor trsbut dlm keadaan pakaiannya tdk suci. Empat, misal, kita bertamu kerumah orang yang memelihara anjing dirumahnya. Lalu kita duduk di sofa nya, kan mungkin anjingnya pernah diletakkan di sofa ataupun orang dirumah tersebut yang bersentuhan lsg dgn anjing lalu ddk di sofa. Apakah menjadikan kita yg duduk di sofa tersebut menjadi najis besar? Lima, Misal kita beli barang di online shop, dan ternyata yg jual orang kafir. Berkaitan dgn najis itu bagaimana ustadz?


Ditanyakan oleh *saudara Adam* (+62 895-0280-9928) pada _8 Januari 2020_


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

_Jawaban_

Wa'alaikumussalam 

Kami salut dengan Mas Adam yang punya perhatian besar terhadap kesucian segala sesuatu. Indikasi kuat bahwa Mas Adam ingin menjadi hamba terbaik. Kita sudah sama-sama tahu bahwa shalat hanya sah bila kita suci. Dari Ibnu ‘Umar, Nabi bersabda,

ู„َุง ุชُู‚ْุจَู„ُ ุตَู„َุงุฉٌ ุจِุบَูŠْุฑِ ุทُู‡ُูˆْุฑٍ 

“Tidak diterima shalat tanpa bersuci.” [Jami’ At-Tirmidzi]


Para ulama menjabarkan, bila hendak shalat, kita wajib bersuci dalam tiga: badan, pakaian dan tempat. 


Untuk dipahami, bahwa menjadi hamba terbaik itu selain harus menjaga kesucian juga mesti menimba ilmu. Beruntung Mas Adam mau bertanya hukum agama kepada kami. 


Sebelum menjawab, pertanyaan dari kami: Memangnya pakaian kita terkena najis dari anjing? Di motornya ada najisnya? Kira2 di sofa tersebut ada bekas najis anjing ga? Kira2 di produk dari online shop tersebut Saat diterima mas Adam, ada najisnya? 


Cara menyikapi kemungkinan-kemungkinan najis itu bagaimana? Ya tidak bagaimana-bagaimana, kan tidak ada najisnya. Baru berstatus hukum tidak suci alias najis kalau ada dzat najisnya. Kalau mengikuti kekhawatiran terus, maka setiap saat berarti kita dalam keadaan najis, sebab dimana2 ada najis dan kita BISA JADI tidak sadar kalau ketempelan najis.


Untuk dipahami, bahwa beragama itu bukan berdasarkan waswas, khawatir, jangan-jangan semata, tapi mesti dengan ilmu dan keyakinan. Beruntung Mas Adam bertanya sehingga bisa memiliki ilmu tentang hal penting ini. 


Segala sesuatu dianggap suci kalau tidak ada bukti adanya najis. Kita hanya DIWAJIBKAN mensucikan najis yang kelihatan atau ada bekasnya atau ada baunya. Kalau tidak ada najis maka apapun dianggap suci oleh agama kita. 


Ulama seluruh dunia sejak zaman atba' tabi'in hingga hari ini dan akhir zaman telah sepakat dengan sebuah prinsip, 

ุงู„ุฃุตู„ ููŠ ุงู„ุงุนูŠุงู† ุงู„ุงุจุงุญุฉ ูˆ ุงู„ุทู‡ุงุฑุฉ

"Pada asalnya, segala sesuatu itu boleh dan suci."


Kami juga pernah memaparkan dalam Konsultasi Syariah dan Fiqih (KASYAF) No. 224, bahwa

ุงู„ูŠู‚ูŠู† ู„ุง ูŠุฒูˆู„ ุจุงู„ุดูƒ 

“Sesuatu yang sudah diyakini maka tidak bisa hilang karena sesuatu yang ragu2.”
Dan

ุงู„ุงุตู„ ุจู‚ุงุก ู…ุง ูƒุงู† ุนู„ู‰ ู…ุง ูƒุงู†

“Pada asalnya sesuatu statusnya tetap seperti adanya”
Dan

ุงู„ุญูƒู… ุงู„ุญุงุฏุซ ุงู„ู‰ ุงู„ุณุจุจ ุงู„ู…ุนู„ูˆู… ู„ุง ุงู„ู‰ ุงู„ู…ู‚ุฏุฑ ุงู„ู…ุธู†ูˆู†

“Hukum yang baru didasarkan pada sebab yang sudah diketahui, bukan berdasarkan ukuran-ukuran yang hanya dugaan.” 

Dan

ู†ุญู† ู†ุญูƒู… ุจุงู„ุธูˆุงู‡ุฑ ูˆ ุงู„ู„ู‡ ูŠุญูƒู… ุจุงู„ุงุณุฑุงุฆุฑ

“Kita menghukumi berdasarkan yang zhahir dan Allah menghukumi berdasarkan yang tidak zhahir.”
Dan masih banyak dalil lainnya dari para ulama

Jadi bagaimana pun kondisinya, yg penting ndak kelihatan ada najis berarti suci. Imam An-Nawawi menjelaskan,

ุงุณْุชِุญْุจَุงุจُ ุงู„ِุงุญْุชِูŠَุงุทِ ูِูŠ ุงู„ْุนِุจَุงุฏَุงุชِ ูˆَุบَูŠْุฑِู‡َุง ุจِุญَูŠْุซُ ู„َุง ูŠَู†ْุชَู‡ِูŠ ุฅู„َู‰ ุงู„ْูˆَุณْูˆَุณَุฉ

“Diperbolehkan berihthiyath (berhati-hati) dalam masalah ibadah dan yang lain tapi jangan sampai mengakibatkan waswas.” [Al-Majmu’]


Tolong diingat baik2 ya dalil-dalil fiqih ini, bahwa PADA ASALNYA segala sesuatu itu boleh dan suci, Baru Njenengan 'boleh' waswas jangan2 najis kalau ada INDIKASI najis. Kalau tidak ada indikasi najis ya berarti suci dan Njenengan ga bakalan berdosa andaikata ternyata benar-benar ada najis, sebab kondisinya tidak tahu. 


Bersamaan dengan itu, bermuamalah, berinteraksi, bertransaksi dengan non-Muslim alias kafir itu boleh dan tidak perlu khawatir ada najis pada tubuh, pakaian, barang maupun tempat milik non-Muslim tersebut kecuali benar-benar kelihatan, terasa atau tercium najis. 


Kenapa bisa seperti itu status hukumnya? Bisa, karena memang begitu. Kita baca bareng-bareng ya nash-nash berikut ini. 


Imam Al-Bukhรขri telah meriwayatkan dalam kitab Al-Buyรป’ Bab Asy-Syirรข` wa Al-Bai’ ma’a Al Musyrikรฎn wa Ahli Al-Harb dari Abdurrahmรขn bin Abi Bakar Radhiyallahu anhu beliau berkata, 


ูƒُู†َّุง ู…َุนَ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ، ุซُู…َّ ุฌَุงุกَ ุฑَุฌُู„ٌ ู…ُุดْุฑِูƒٌ ู…ُุดْุนَุงู†ٌّ ุทَูˆِูŠู„ٌ ุจِุบَู†َู…ٍ ูŠَุณُูˆู‚ُู‡َุง، ูَู‚َุงู„َ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ: ” ุจَูŠْุนًุง ุฃَู…ْ ุนَุทِูŠَّุฉً؟ – ุฃَูˆْ ู‚َุงู„َ: – ุฃَู…ْ ู‡ِุจَุฉً “، ู‚َุงู„َ: ู„ุงَ، ุจَู„ْ ุจَูŠْุนٌ، ูَุงุดْุชَุฑَู‰ ู…ِู†ْู‡ُ ุดَุงุฉً


Kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian datanglah seorang musyrik berambut panjang sekali (atau berambut acak-acakan) membawa kambing yang digiringnya. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Silahkan dijual atau diberikan? Atau berkata: atau dihadiahkan?" Maka ia menjawab, "Tidak. Tapi dijual." Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli darinya seekor kambing. [Shahih Al-Bukรขhri  4/410 no. 2216].


Dari Aisyah Radhiyallahu anhuma, beliau berkata:


ุฃَู†َّ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุงุดْุชَุฑَู‰ ู…ِู†ْ ูŠَู‡ُูˆุฏِูŠٍّ ุทَุนَุงู…ًุง ุฅِู„َู‰ ุฃَุฌَู„ٍ ู…َุนْู„ُูˆู…ٍ، ูˆَุงุฑْุชَู‡َู†َ ู…ِู†ْู‡ُ ุฏِุฑْุนًุง ู…ِู†ْ ุญَุฏِูŠุฏٍ


Sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli bahan makanan dari seorang Yahudi dengan hutang dan orang yahudi mengambil baju besi beliau sebagai gadai jaminannya [Shahih Al-Bukhari].


Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam kitab Al-Janรข`iz dari Anas Radhiyallahu anhu, beliau berkata, 


ูƒَุงู†َ ุบُู„ุงَู…ٌ ูŠَู‡ُูˆุฏِูŠٌّ ูŠَุฎْุฏُู…ُ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ، ูَู…َุฑِุถَ، ูَุฃَุชَุงู‡ُ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูŠَุนُูˆุฏُู‡ُ، ูَู‚َุนَุฏَ ุนِู†ْุฏَ ุฑَุฃْุณِู‡ِ، ูَู‚َุงู„َ ู„َู‡ُ: «ุฃَุณْู„ِู…ْ»، ูَู†َุธَุฑَ ุฅِู„َู‰ ุฃَุจِูŠู‡ِ ูˆَู‡ُูˆَ ุนِู†ْุฏَู‡ُ ูَู‚َุงู„َ ู„َู‡ُ: ุฃَุทِุนْ ุฃَุจَุง ุงู„ู‚َุงุณِู…ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ، ูَุฃَุณْู„َู…َ، ูَุฎَุฑَุฌَ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูˆَู‡ُูˆَ ูŠَู‚ُูˆู„ُ: ุงู„ุญَู…ْุฏُ ู„ِู„َّู‡ِ ุงู„َّุฐِูŠ ุฃَู†ْู‚َุฐَู‡ُ ู…ِู†َ ุงู„ู†َّุงุฑِ.


Dahulu ada seorang anak Yahudi biasa membantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Suatu saat ia sakit, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya dan duduk di dekat kepalanya seraya berkata kepadanya: Masuklah ke dalam Islam! Lalu anak tersebut melihat kepada bapaknya yang berada di sampingnya. Sang bapak berkata kepadanya: Taatilah Abul Qasim . Lalu ia masuk Islam. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar sembari berkata, "Segala puji bagi Allรขh yang telah menyelamatkannya dari neraka." [Shahihl-Bukhรขri 3/219 no. 1356].


Imam Al-Bukhรขri juga meriwayatkan kisah Abu Thรขlib ketika sakaratul maut, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjunginya dan menawarkan Islam kepadanya [lihat Shahih Al-Bukhรขri 3/222 no. 1360].


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memakai baju buatan Yaman sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sakit, beliau keluar memakai baju qithriyyah (yaitu baju bercorak dari Yaman yang terbuat dari katun) [Mukhtashar Asy Syamail hal. 49]. Perlu diketahui bahwa kebanyakan penduduk Yaman ketika itu adalah orang-orang kafir.


Diceritakan oleh Buraidah, 

ุฃู† ุงู„ู†ุฌุงุดูŠ ุฃู‡ุฏู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ุฎููŠู† ุฃุณูˆุฏูŠู† ุณุงุฐุฌูŠู† ูู„ุจุณู‡ู…ุง ุซู… ุชูˆุถุฃ ูˆู…ุณุญ ุนู„ูŠู‡ู…ุง 

“Raja Najasyi pernah memberi hadiah pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dua buah khuf yang berwarna hitam yang terlihat sederhana, kemudian beliau menggunakannya dan mengusap kedua khuf tersebut.” [Mukhtashar Asy Syamail hal. 51] 


Masih ada beberapa nash lainnya. Walhasil, tidak perlu takut berinteraksi dengan orang-orang kafir kecuali mereka memusuhi kita dan ada najis pada tubuh, pakaian, barang maupun tempat mereka. 


Didalam kitab Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, disebutkan bahwa bermuamalah dengan orang-orang kafir adalah dibolehkan. Telah diriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau saw pernah membeli barang dari seorang Yahudi hingga waktu yang dimudahkan.” Terdapat pula riwayat bahwa Nabi saw pernah membeli makanan dari seorang Yahudi hingga waktu yang akan datang dan beliau menggadaikan baju besinya.” Ini merupakan dalil dibolehkannya bermuamalah dengan mereka (orang-orang Kafir).


Adapun tentang kekhawatiran anda terhadap barang-barang yang dibeli dari orang-orang non muslim kemungkinan terkena najis dari binatang-binatang piaraan mereka yang diharamkan islam, seperti : anjing atau babi maka tidaklah berpengaruh


Apabila barang-barang yang dibeli dari mereka terkena oleh najis anjing atau babi dan najis tersebut masih basah maka diharuskan bagi si pembeli untuk mensucikannya dengan air tujuh kali yang salah satunya adalah dengan tanah. Dan jika najis tersebut sudah kering atau tidak lagi tampak bekas-bekasnya pada barang tersebut maka hal itu tidaklah mengapa dan tidak perlu dicuci dengan tanah tujuh kali yang salah satunya dengan tanah.


Sedangkan apabila barang tersebut hanya sebatas tersentuh oleh badan anjing atau babi baik anda mengetahui atau tidak mengetahuinya maka hal demikian tidaklah menjadikan barang itu najis dikarenakan yang najis dari kedua binatang itu bukanlah bulu atau badannya akan tetapi pada air liur dan dagingnya, sebagaimana pendapat para ulama Hanafi dan riwayat kedua dari Imam Ahmad bin Hambal serta yang dipilih oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah.


https://m.eramuslim.com/ustadz-menjawab/membeli-barang-dari-non-muslim.htm


Pun begitu, kita hanya diwajibkan menghilangkan najis dan mensucikan tempat tertentu bila tempat tersebut hendak kita gunakan sebagai tempat shalat. 


ู‚َุงู„َ ุงุจْู†ُ ุนُู…َุฑَ ูƒُู†ْุชُ ุฃَุจِูŠุชُ ูِูŠ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ ูِูŠ ุนَู‡ْุฏِ ุฑَุณُูˆู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆَูƒُู†ْุชُ ูَุชًู‰ ุดَุงุจًّุง ุนَุฒَุจًุง ูˆَูƒَุงู†َุชِ ุงู„ْูƒِู„ุงَุจُ ุชَุจُูˆู„ُ ูˆَุชُู‚ْุจِู„ُ ูˆَุชُุฏْุจِุฑُ ูِูŠ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ ูَู„َู…ْ ูŠَูƒُูˆู†ُูˆุง ูŠَุฑُุดُّูˆู†َ ุดَูŠْุฆًุง ู…ِู†ْ ุฐَู„ِูƒَ

Ibnu Umar berkata, “Aku dulu bermalam di masjid di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika itu aku masih muda dan bujangan, dan anjing-anjing kencing (di luar masjid). Lalu keluar masuk masjid, akan tetapi mereka (para sahabat Nabi) sama sekali tidak memercikkan air (di masjid) karena hal itu”. [Sunan. Abu Dawud No. 382 dan Shahih Ibnu Hibban No. 1656] 


ู‚َุงู„َ ูƒَุงู†َุชِ ุงู„ْูƒِู„ุงَุจُ ุชَุจُูˆู„ُ ูˆَุชُู‚ْุจِู„ُ ูˆَุชُุฏْุจِุฑُ ูِูŠ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ ูِูŠ ุฒَู…َุงู†ِ ุฑَุณُูˆู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูَู„َู…ْ ูŠَูƒُูˆู†ُูˆุง ูŠَุฑُุดُّูˆู†َ ุดَูŠْุฆًุง ู…ِู†ْ ุฐَู„ِูƒَ‏


Pada masa Rasulullah, anjing-anjing biasa buang air kecil, dan melewati masjid-masjid (datang dan pergi), tetapi mereka (sahabat) tidak pernah memercikkan air di atasnya (urin anjing) [Shahih Al Bukhari no. 174] 


Syaikh Muhammad Asyraf ‘Azhim Abadi menjelaskan hadits ini, 


ูˆَุงู„ْุญَุฏِูŠุซُ ูِูŠู‡ِ ุฏَู„ِูŠู„ٌ ุนَู„َู‰ ุฃَู†َّ ุงู„ْุฃَุฑْุถَ ุฅِุฐَุง ุฃَุตَุงุจَุชْู‡َุง ู†َุฌَุงุณَุฉٌ ูَุฌَูَّุชْ ุจِุงู„ุดَّู…ْุณِ ุฃَูˆِ ุงู„ْู‡َูˆَุงุกِ ูَุฐَู‡َุจَ ุฃَุซَุฑُู‡َุง ุชَุทْู‡ُุฑُ ุฅِุฐْ ุนَุฏَู…ُ ุงู„ุฑَّุดِّ ูŠَุฏُู„ُّ ุนَู„َู‰ ุฌَูَุงูِ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ ูˆَุทَู‡َุงุฑَุชِู‡َุง


“Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa tanah yang terkena najis ketika najisnya sudah kering karena matahari atau karena angin, maka hilanglah efek kenajisannya, dan tanah tersebut menjadi suci, karena (dalam hadits disebutkan) tidak diperciki air, dan itu menunjukan telah keringnya tanah dari najis, dan menunjukan akan sucinya juga.”


ู‚َุงู„َ ุงู„ْุฎَุทَّุงุจِูŠُّ ูِูŠ ู…َุนَุงู„ِู…ِ ุงู„ุณُّู†َู†ِ ูˆَูƒَุงู†َุชِ ุงู„ْูƒِู„َุงุจُ ุชَุจُูˆู„ُ ูˆَุชُู‚ْุจِู„ُ ูˆَุชُุฏْุจِุฑُ ูِูŠ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ ุนَุงุจِุฑَุฉً ุฅِุฐْ ู„َุง ูŠَุฌُูˆุฒُ ุฃَู†ْ ุชَุชْุฑُูƒَ ุงู„ْูƒِู„َุงุจُ ุงู†ْุชِูŠَุงุจَ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ ุญَุชَّู‰ ุชَู…ْุชَู‡ِู†َู‡ُ ูˆَุชَุจُูˆู„َ ูِูŠู‡ِ ูˆَุฅِู†َّู…َุง ูƒَุงู†َ ุฅِู‚ْุจَุงู„ُู‡َุง ูˆَุฅِุฏْุจَุงุฑُู‡َุง ูِูŠ ุฃَูˆْู‚َุงุชٍ ู†َุงุฏِุฑَุฉٍ ูˆَู„َู…ْ ูŠَูƒُู†ْ ุนَู„َู‰ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ ุฃَุจْูˆَุงุจٌ ุชَู…ْู†َุนُ ู…ِู†ْ ุนُุจُูˆุฑِู‡َุง ูِูŠู‡ِ


“Al-Khaththabi berkata dalam kitab beliau Ma’alim As-Sunan, dulu anjing-anjing kencing di masjid, anjing tersebut datang dan pergi melewati masjid. sebenarnya tidak diperbolehkan anjing dibiarkan berlalu lalang di masjid sehingga masjid akan hina, akan tetapi (yang ada dalam hadits ini) merupakan kondisi yang jarang, dan di waktu itu masjid belum ada pintu yang bisa menghalangi anjing-anjing tersebut.”


Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, 

ูˆุงู„ุฃู‚ุฑุจ ุฃู† ูŠู‚ุงู„: ุฅู† ุฐู„ูƒ ูƒุงู† ููŠ ุงุจุชุฏุงุก ุงู„ุญุงู„ ุนู„ู‰ ุฃุตู„ ุงู„ุฅุจุงุญุฉ، ุซู… ูˆุฑุฏ ุงู„ุฃู…ุฑ ุจุชูƒุฑูŠู… ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ูˆุชุทู‡ูŠุฑู‡ุง ูˆุฌุนู„ ุงู„ุฃุจูˆุงุจ ุนู„ูŠู‡ุง،

ูุงุดุงุฑ ุฅู„ู‰ ุฃู† ุฐู„ูƒ ูƒุงู† ููŠ ุงู„ุงุจุชุฏุงุก، ุซู… ูˆุฑุฏ ุงู„ุฃู…ุฑ ุจุชูƒุฑูŠู… ุงู„ู…ุณุฌุฏ ุญุชู‰ ู…ู† ู„ุบูˆ ุงู„ูƒู„ุงู…، ูˆุจู‡ุฐุง ูŠู†ุฏูุน ุงู„ุงุณุชุฏู„ุงู„ ุจู‡ ุนู„ู‰ ุทู‡ุงุฑุฉ ุงู„ูƒู„ุจ.

“Pendapat yang paling mendekati kebenarab adalah bahwa hal ini terjadi di awal-awal (dibangunnya masjid), berdasarkan prinsip bahwa semua hal diperbolehkan (kecuali ada bukti yang bertentangan), maka ketika perintah turun untuk menghormati dan memurnikan masjid, dibuatlah pintu-pintu masjid (agar anjing tidak bisa masuk)” [Fat-h Al-Bari, 1/279] 


Dalam fiqh madzhab Syafi’i, menjadi najisnya suatu tempat sebab bersentuhan dengan anjing, disyaratkan salah satunya dalam kondisi basah. Sehingga jika anjing masuk ke masjid dan tidak diketahui secara pasti menjilat-jilat karpet dan semisalnya di area masjid, maka masjid tersebut tetap dihukumi suci.


Seluruh bumi adalah masjid dan suci kecuali bila terdapat najis dan harus disucikan dari najis bila hendak ditempati untuk shalat.


ุฃُุนْุทِูŠุชُ ุฎَู…ْุณًุง ู„َู…ْ ูŠُุนْุทَู‡ُู†َّ ุฃَุญَุฏٌ ู…ِู†ْ ุงู„ْุฃَู†ْุจِูŠَุงุกِ ู‚َุจْู„ِูŠ ู†ُุตِุฑْุชُ ุจِุงู„ุฑُّุนْุจِ ู…َุณِูŠุฑَุฉَ ุดَู‡ْุฑٍ ูˆَุฌُุนِู„َุชْ ู„ِูŠ ุงู„ْุฃَุฑْุถُ ู…َุณْุฌِุฏًุง ูˆَุทَู‡ُูˆุฑًุง ูˆَุฃَูŠُّู…َุง ุฑَุฌُู„ٍ ู…ِู†ْ ุฃُู…َّุชِูŠ ุฃَุฏْุฑَูƒَุชْู‡ُ ุงู„ุตَّู„َุงุฉُ ูَู„ْูŠُุตَู„ِّ ูˆَุฃُุญِู„َّุชْ ู„ِูŠ ุงู„ْุบَู†َุงุฆِู…ُ ูˆَูƒَุงู†َ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ูŠُุจْุนَุซُ ุฅِู„َู‰ ู‚َูˆْู…ِู‡ِ ุฎَุงุตَّุฉً ูˆَุจُุนِุซْุชُ ุฅِู„َู‰ ุงู„ู†َّุงุณِ ูƒَุงูَّุฉً ูˆَุฃُุนْุทِูŠุชُ ุงู„ุดَّูَุงุนَุฉَ

Dari Jabir bin ‘Abdullah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seorangpun dari Nabi-Nabi sebelumku; aku ditolong melawan musuhku dengan ketakutan mereka sepanjang sebulan perjalanan, bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan suci; maka dimana saja seorang laki-laki dari ummatku mendapati waktu shalat hendaklah ia shalat. Dihalalkan harta rampasan untukku, para Nabi sebelumku diutus khusus untuk kaumnya sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia, dan aku diberikah (hak) syafa’at”. [Shahih Al-Bukhari] 


Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุงู„ุฃَุฑْุถُ ูƒُู„ُّู‡َุง ู…َุณْุฌِุฏٌ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ْู…َู‚ْุจُุฑَุฉَ ูˆَุงู„ْุญَู…َّุงู…َ

“Seluruh bumi adalah masjid (boleh digunakan untuk shalat) kecuali kuburan dan tempat pemandian” [Sunan At-Tirmidzi no. 317; Sunan Ibnu Majah no. 745]


Mungkin Mas Adam masih bertanya, bukankah orang-orang musyrik itu najis? Betul, Allรขh Al-Jalil berfirman, 

ูŠَٰุٓฃَูŠُّู‡َุง ูฑู„َّุฐِูŠู†َ ุกَุงู…َู†ُูˆุٓงْ ุฅِู†َّู…َุง ูฑู„ูۡ…ُุดุۡฑِูƒُูˆู†َ ู†َุฌَุณٞ ูَู„َุง ูŠَู‚ุۡฑَุจُูˆุงْ ูฑู„ูۡ…َุณุۡฌِุฏَ ูฑู„ุۡญَุฑَุงู…َ ุจَุนุۡฏَ ุนَุงู…ِู‡ِู…ۡ ู‡َٰุฐَุงۚ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. Oleh karena itu, janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” [QS. At-Taubah: 28] 


Untuk memahami firman Allah Al-Hasib ini, kita mesti melihat bagaimana Rasulullah dan para shahabat Beliau. 


ุฃُุชِูŠَ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุงู„ุตَّู„ุงุฉُ ูˆَุงู„ุณَّู„ุงู…ُ ุจِู„َุจَู†ٍ ูَุดَุฑِุจَ ุจَุนْุถَู‡ُ ูˆَู†َุงูˆَู„ ุงู„ْุจَุงู‚ِูŠَ ุฃَุนْุฑَุงุจِูŠًّุง ูƒَุงู†َ ุนَู„َู‰ ูŠَู…ِูŠู†ِู‡ِ ูَุดَุฑِุจَ ุซُู…َّ ู†َุงูˆَู„َู‡ُ ุฃَุจَุง ุจَูƒْุฑٍ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู†ْู‡ُ ูَุดَุฑِุจَ ูˆَู‚َุงู„ : ุงู„ุฃْูŠْู…َู†َ ูَุงู„ุฃْูŠْู…َู†َ


Rasulullah diberikan susu lalu beliau meminumnya sebagian lalu disodorkan sisanya itu kepada a’rabi (kafir) yang ada di sebelah kanannya dan dia meminumnya lalu disodorkan kepada Abu Bakar dan beliau pun meminumnya (dari wadah yang sama) lalu beliau berkata,’Ke kanan dan ke kanan’. [Shahih Al-Bukhari] 


Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

ุจَุนَุซَ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุฎَูŠْู„ุงً ู‚ِุจَู„َ ู†َุฌْุฏٍ، ูَุฌَุงุกَุชْ ุจِุฑَุฌُู„ٍ ู…ِู†ْ ุจَู†ِูŠ ุญَู†ِูŠูَุฉَ ูŠُู‚َุงู„ُ ู„َู‡ُ ุซُู…َุงู…َุฉُ ุจْู†ُ ุฃُุซَุงู„ٍ، ูَุฑَุจَุทُูˆู‡ُ ุจِุณَุงุฑِูŠَุฉٍ ู…ِู†ْ ุณَูˆَุงุฑِูŠ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ، ูَุฎَุฑَุฌَ ุฅِู„َูŠْู‡ِ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ูَู‚َุงู„َ: ุฃَุทْู„ِู‚ُูˆุง ุซُู…َุงู…َุฉَ !ูَุงู†ْุทَู„َู‚َ ุฅِู„َู‰ ู†َุฎْู„ٍ ู‚َุฑِูŠุจٍ ู…ِู†َ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ، ูَุงุบْุชَุณَู„َ، ุซُู…َّ ุฏَุฎَู„َ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏَ، ูَู‚َุงู„َ: ุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†ْ ู„َุง ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„َّุง ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุฃَู†َّ ู…ُุญَู…َّุฏًุง ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim pasukan berkuda ke arah Najd. Kemudian pasukan tersebut kembali dengan membawa seorang tawanan dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal. Mereka lantas mengikatnya di salah satu tiang Masjid Nabawi. Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemuinya, beliau berkata, ‘Bebaskan Tsumamah!’ Lalu Tsumamah beranjak ke pohon kurma yang tidak jauh dari Masjid Nabawi, mandi, lalu masuk masjid, lantas berkata, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah’.” [Muttafaq ‘Alaih] 


Di dalam hadits ini, para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikat tubuh Tsumamah yang masih kafir di salah satu tiang masjid. Seandainya fisik orang kafir itu najis, tidak mungkin ia dimasukkan ke Masjid Nabawi yang suci.


Imam An-Nawawi berkata, “Hadits ini menunjukan bolehnya mengikat tawanan dan menahannya, serta bolehnya memasukkan orang kafir dalam masjid. Dan Madzhab Imam Asy-Syafi’i adalah bolehnya memasukan orang kafir dalam mesjid dengan idzin seorang muslim, sama saja apakah orang kafir tersebut dari kalangan Ahlul Kitab atau selain mereka” [Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim 12/87, lihat perkataan Imam As-Syafi’i dalam Al-Umm 1/54] 


Demikian juga Imam Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya memberi judul sebuah bab dengan judul, 


ุจَุงุจُ ุงู„ุฑُّุฎْุตَุฉِ ูِูŠ ุฅِู†ْุฒَุงู„ِ ุงู„ْู…ُุดْุฑِูƒِูŠْู†َ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏَ ุบَูŠْุฑَ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ ุงู„ْุญَุฑَุงู…ِ ุฅِุฐَุง ูƒَุงู†َ ุฐَู„ِูƒَ ุฃَุฑْุฌَุง ู„ุฅุณْู„ุงَู…ِู‡ِู…ْ ูˆَุฃَุฑَู‚َّ ู„ِู‚ُู„ُูˆْุจِู‡ِู…ْ ุฅِุฐَุง ุณَู…ِุนُูˆุง ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†َ ูˆَุงู„ุฐِّูƒْุฑَ


“Bab rukhshahnya memasukan kaum musyrikin ke dalam masjid selain al-masjid al-haram jika dengan hal itu diharapkan mereka lebih mudah masuk islam dan lebih melembutkan hati mereka tatkala mereka mendengar Al-Qur’an dan dzikir (mau’izhah)”


Lalu beliau membawakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Nabu bernama Utsman bin Abi Al ‘Ash, 


ุงَู†َّ ูˆَูْุฏَ ุซَู‚ِูŠูٍ ู‚َุฏِู…ُูˆุง ุนู„ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูَุฃَู†ْุฒَู„َู‡ُู…ُ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏَ ู„ِูŠَูƒُูˆู†َ ุฃَุฑَู‚َّ ู„ِู‚ُู„ُูˆุจِู‡ِู…ْ


“Bahwasanya utusan suku Tsaqif datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabipun memasukan mereka ke dalam mesjid agar qalbu mereka lebih lembut” [Shahih Ibnu Khuzaimah 2/285 no 1328, Musnad Ahmad 4/218, As-Sunan Al-Kubro li Al-Baihaqi no 4131 dan  Al-Mu’jam Al-Kabir li Ath-Thabrani no 8372] 


Baiklah, kami rasa jawaban kami terlampau cukup untuk memuaskan dahaga ilmu Mas Adam dan para jamaah Quantum Fiqih lainnya. 


Dijawab oleh UBER (Ustadz H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.)

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Mohon bantuan share jawaban ini ke grup-grup Whatsapp, Facebook, Telegram dan lain-lain dengan tetap mencantumkan identitas kami, Konsultasi Syariah dan Fiqih (KASYAF) oleh Quantum Fiqih Islamic Broadcast (QUFI IB) bimbingan UBER (Ustadz H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.).


Jangan lupa follow instagram.com/pejuangshalatsunnah


Dukung QUFI IB dengan belanja mushaf Al-Quran di instagram.com/gudangkitabsucialquran


Sampaikan konsultasi melalui kontakk.com/@quantumfiqih


Ikuti aneka pelatihan bisnis kuliner Rumahan di LPKS YADARIQUFIYA hubungi 082140888638 

Jumat, 03 Januari 2020

Batalkah Shalat Yang Tidak Khusyu dan Tidak Sempurna | Konsultasi Syariah dan Fiqih (KASYAF) | Ustadz H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.


๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ

๐Ÿ‡ง ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡น ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ฑ ๐Ÿ‡ฐ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ญ  ๐Ÿ‡ธ ๐Ÿ‡ญ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ฑ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡น  
๐Ÿ‡พ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ณ ๐Ÿ‡ฌ  ๐Ÿ‡น ๐Ÿ‡ฎ ๐Ÿ‡ฉ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ฐ  
๐Ÿ‡ฐ ๐Ÿ‡ญ ๐Ÿ‡บ ๐Ÿ‡ธ ๐Ÿ‡พ ๐Ÿ‡บ  ๐Ÿ‡ฉ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ณ  
๐Ÿ‡น ๐Ÿ‡ฎ ๐Ÿ‡ฉ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ฐ  ๐Ÿ‡ธ ๐Ÿ‡ช ๐Ÿ‡ฒ ๐Ÿ‡ต ๐Ÿ‡บ ๐Ÿ‡ท ๐Ÿ‡ณ ๐Ÿ‡ฆ 

๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ๐Ÿ•Œ

#⃣ #broadcastquantumfiqih
No.: KS/4/I/20/QUFI
Topik: 1⃣ _Konsultasi Syariah & Fiqih (KASYAF)_
Rubrik: _quantumfiqihibadah_

๐Ÿ‡ง‌๐Ÿ‡จ‌๐Ÿ‡ถ‌๐Ÿ‡บ‌๐Ÿ‡ซ‌๐Ÿ‡ฎ‌

Konsultasi Syariah & Fiqih No. *335 -  Batalkah Shalat Yang Tidak Khusyu dan Tidak Sempurna*

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
_Pertanyaan_
๐Ÿ“Ÿ Pak ustaz, kl solat blm khusyu dan cara sholat nya mssih blm bener apakah d terima. Seperti blm khusyu dan suka lupa bacaan nya pas sholat

๐Ÿ“ Ditanyakan oleh saudara *M. D. Andi* (+628972011726) dari Palembang pada _2 Januari 2020_

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
_Jawaban_
๐ŸŽช Kalau belum khusyu, tetap diterima Allah Al-Hasib. Kalau belum bener, belum benernya kayak gimana dulu? Sebab ada namanya belum bener yang bikin batal shalat dan ada yang sekadar mengurangi nilai shalat. 

๐ŸŒธ Bersamaan dengan itu, nilai shalat kita juga sesuai kekhusyu'an kita. Dari Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ุฅِู†َّ ุงู„ุฑَّุฌُู„َ ู„َูŠَู†ْุตَุฑِูُ ูˆَู…َุง ูƒُุชِุจَ ู„َู‡ُ ุฅِู„ุงَّ ุนُุดْุฑُ ุตَู„ุงَุชِู‡ِ ุชُุณْุนُู‡َุง ุซُู…ُู†ُู‡َุง ุณُุจُุนُู‡َุง ุณُุฏُุณُู‡َุง ุฎُู…ُุณُู‡َุง ุฑُุจُุนُู‡َุง ุซُู„ُุซُู‡َุง ู†ِุตْูُู‡َุง
_"Ketika seseorang selesai dari shalatnya, tsawab yang dia dapatkan hanya 1/10 shalatnya, atau 1/9 atau 1/8 atau 1/7 atau 1/6 atau 1/5 atau ¼ atau 1/3, atau setengahnya."_ *[Sunan Abu Dawud no. 796]*

๐Ÿ’Ž Apakah shalat itu hanya sah jika khusyu' saja dan tidak sah jika tidak khusyu'? Problemnya, pertanyaan ini tidak ada jawabannya dalam Al-Quran maupun As-Sunnah secara sharih (lugas). Meski ada segolongan ulama Salaf yang menghukumi khusyu' sebagai syarat sah shalat. Seperti Imam Al-Ghazali dan Imam Ibnu Taimiyah. 

๐Ÿ› Namun, jumhur ulama berpandangan khusyu’ bukan syarat sah shalat atau rukunnya, hanya sunnah dalam shalat. Jika tidak ada khusyu’ di dalam shalat, maka tidak ada kewajiban menggantinya (mengqadla) atau mengulanginya. Dalilnya hadits di atas dan realita bahwa Rasulullah memerintahkan orang yang lupa dalam shalat untuk sujud sahwi karena meninggalkan perkara-perkara tertentu dan tidak memerintahkan untuk mengulang.

๐Ÿ“œ Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat orang yang tidak sempurna shalatnya dan tidak thuma’ninah dalam melaksanakannya, beliau menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya, beliaupun bersabda, 
ุฅِุฐَ ู‚ُู…ْุชَ ุฅِู„َู‰ ุงู„َّุตَّู„ุงَุฉِ ูَุฃَุณْุจِุบِ ุงู„ْูˆُุถُูˆْุกَ ุซُู…َّ ุงุณْุชَู‚ْุจِู„ِ ุงู„ْู‚ِุจْู„َุฉَ ูَูƒَุจِّุฑْ ุซُู…َّ ุงู‚ْุฑَุงْ ู…َุงุชَูŠَุณَّุฑَ ู…َุนَูƒَ ู…ِู†َ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ ุซُู…َّ ุงุฑْูƒَุนْ ุญَุชَّู‰ ุชَุทْู…َุฆِู†َّ ุฑَุงูƒِุนًุง ุซُู…َّ ุงุฑْูَุน ุญَุชَّู‰ ุชَุนْุชَุฏِู„َ ู‚َุงุฆِู…ًุง ุซُู…َّ ุงุณْุฌُุฏْ ุญَุชَّู‰ ุชَุทْู…َุฆِู†َّ ุณَุงุฌِุฏًุง ุซُู…َّ ุงุฑْูَุนْ ุญَุชَّู‰ ุชَุทْู…َุฆِู†َّ ุฌَุงู„ِุณًุง ุซُู…َّ ุงูْุนَู„ْ ุฐَู„ِูƒَ ูِูŠ ุตَู„ุงَุชِูƒَ ูƒُู„ِّู‡َุง
_“Jika engkau hendak mendirikan shalat, sempurnakanlah wudhu, lalu berdirilah menghadap kiblat kemudian bertakbirlah (takbiratul ihram), lalu bacalah ayat-ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu, kemudian ruku’lah sampai engkau tenang dalam posisi ruku, lalu bangkitlah (berdiri dari ruku’) sampai engkau berdiri tegak, kemudian sujudlah sampai engkau tenang dalam posisi sujud, lalu bangkitlah (dari sujud) sampai engkau tenang dalam posisi duduk. Kemudian, lakukan itu semua dalam semua shalatmu”._ *[Shahih Al-Bukhari]*

๐Ÿฉ Yang menjadi kewajiban dalam shalat adalah thuma'ninah (tenang dan perlahan agar sempurna) dalam setiap rukun shalat. Walau mengulang shalat wajib memang ada dalil yang membolehkannya, namun penyebabnya bukan semata-mata karena perasaan kurang sempurna khusyu'nya.

๐Ÿ“บ Dijelaskan oleh Syaikh Bin Baz, 
ุฃู…ุง ุฅุฐุง ูƒุงู† ูŠุทู…ุฆู† ููŠู‡ุง ، ูˆู„ูƒู† ู‚ุฏ ุชุนุชุฑูŠู‡ ุจุนุถ ุงู„ู‡ูˆุงุฌุณ ูˆุจุนุถ ุงู„ู†ุณูŠุงู† ู‡ุฐุง ู„ุง ูŠุจุทู„ ุงู„ุตู„ุงุฉ ، ู„ูƒู† ู„ูŠุณ ู„ู‡ ู…ู† ุตู„ุงุชู‡ ุฅู„ุง ู…ุง ุนู‚ู„ ู…ู†ู‡ุง ูˆู…ุง ุฎุดุน ููŠู‡ ูˆุฃู‚ุจู„ ุนู„ูŠู‡ ูŠูƒูˆู† ู„ู‡ ุซูˆุงุจ ุฐู„ูƒ ، ูˆู…ุง ูุฑุท ููŠู‡ ูŠููˆุชู‡ ุซูˆุงุจู‡ ، ููŠู†ุจุบูŠ ู„ู„ุนุจุฏ ุฃู† ูŠُู‚ุจู„ ุนู„ู‰ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆูŠุทู…ุฆู† ููŠู‡ุง ูˆูŠุฎุดุน ููŠู‡ุง ู„ู„ู‡ ุนุฒ ูˆุฌู„ ุญุชู‰ ูŠูƒู…ู„ ุซูˆุงุจู‡ ، ูˆู„ูƒู† ู„ุง ุชุจุทู„ ุฅู„ุง ุฅุฐุง ุฃุฎู„ ุจุงู„ุทู…ุฃู†ูŠู†ุฉ ู…ุซู„ ุฅุฐุง ุฑูƒุน ุฑูƒูˆุนุงً ู„ูŠุณ ููŠู‡ ุทู…ุฃู†ูŠู†ุฉ ููŠุนุฌู„ ูˆู„ุง ุชุฎุดุน ุงู„ุฃุนุถุงุก ، ูˆุงู„ูˆุงุฌุจ ุฃู† ูŠุทู…ุฆู† ุญุชู‰ ูŠุฑุฌุน ูƒู„ ูู‚ุงุฑ ุฅู„ู‰ ู…ูƒุงู†ู‡ ، ูˆุญุชู‰ ูŠุชู…ูƒู† ู…ู† ู‚ูˆู„: ุณุจุญุงู† ุฑุจูŠ ุงู„ุนุธูŠู… ููŠ ุงู„ุฑูƒูˆุน ูˆู…ู† ู‚ูˆู„ : ุณุจุญุงู† ุฑุจูŠ ุงู„ุฃุนู„ู‰ ููŠ ุงู„ุณุฌูˆุฏ ، ูˆุญุชู‰ ูŠุชู…ูƒู† ู…ู† ู‚ูˆู„ : ุฑุจู†ุง ูˆู„ูƒ ุงู„ุญู…ุฏ ، ุฅู„ู‰ ุขุฎุฑู‡ ุจุนุฏ ุงู„ุฑูุน ู…ู† ุงู„ุฑูƒูˆุน ، ูˆุญุชู‰ ูŠุชู…ูƒู† ุจูŠู† ุงู„ุณุฌุฏุชูŠู† ุฃู† ูŠู‚ูˆู„ : ุฑุจ ุงุบูุฑ ู„ูŠ ، ู‡ุฐุง ู„ุงุจุฏ ู…ู†ู‡ .
"Kalau kekhusyu'an hilang sampai hingga (bagaikan buruk) mematuk dalam shalat (gerakannya sangat cepat) dan tidak ada thuma’ninah, maka shalatnya batal. Akan tetapi jika shalatnya tenang, namun kadang dihinggapi perasaan atau sedikit lupa, maka hal ini tidak membatalkan shalat. Akan tetapi dia tidak mendapatkan (tsawab) kecuali apa yang dia sadar, waktu khusyu dan kehadiran qalbu. Dia akan mendapatkan tsawab (sebatas) itu, sedangkan bagian yang dia lalai, tsawabnya hilang. Seharusnya bagi seorang hamba menghadirkan qalbunya dengan total, thuma’ninah dan khusyu di dalamnya hanya karena Allah agar meraih tsawab yang sempurna. Jadi (kalau ada sedikit ketidakkhusyu'an) tidak membatalkan shalat kecuali apabila ada cacat dalam thuma’ninah, seperti kalau ruku tidak tuma’ninah, tergesa-gesa dan anggota badannya tidak tenang." *[Fatawa Nur 'Ala Ad-Darbi 2/774]*

๐Ÿ“ฆ Jadi terus aja shalat ya. Kalau ada yang kelupaan dari rukun shalat, sujud sahwi. Kalau sekadar lupa bacaan selain Al Fatihah, ga pake sujud sahwi. Lakukan aja shalat sebanyak-banyaknya, nanti Allรขh yang bikin kita khusyu'. *Shalat hanya batal kalau kita tidak thuma'ninah.* 

๐Ÿ“ Dijawab oleh *UBER* (Ustadz H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.)
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
๐Ÿ“บ Follow aneka medsos kami di kontakk.com/@quantumfiqih

๐ŸŒธ Telah dibuka *GUDANG KITAB SUCI* menjual lebih dari 73 varian produk terbitan Al-Qur`an dengan stok melimpah. Kepoin Instagram @gudangkitabsucialquran atau langsung order via https://wa.me/6282140888638?text=Assalamu%27alaikum

Cara Taubat Dari Mukhaddirat (Narkoba) Dan Utangnya | Konsultasi Syariah dan Fiqih (KASYAF) | Ustadz H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.


๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ

๐Ÿ‡น ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡บ ๐Ÿ‡ง ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡น  ๐Ÿ‡ฉ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ท ๐Ÿ‡ฎ  
๐Ÿ‡ฒ ๐Ÿ‡บ ๐Ÿ‡ฐ ๐Ÿ‡ญ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ฉ ๐Ÿ‡ฉ ๐Ÿ‡ฎ ๐Ÿ‡ท ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡น  
๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡น ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡บ  ๐Ÿ‡ณ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ท ๐Ÿ‡ฐ ๐Ÿ‡ด ๐Ÿ‡ง ๐Ÿ‡ฆ  
๐Ÿ‡ฉ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ณ  ๐Ÿ‡บ ๐Ÿ‡น ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ณ ๐Ÿ‡ฌ ๐Ÿ‡ณ ๐Ÿ‡พ ๐Ÿ‡ฆ 

๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ๐Ÿงซ

#⃣ #broadcastquantumfiqih
No.: KS/3/I/20/QUFI
Topik: 1⃣ _Konsultasi Syariah & Fiqih (KASYAF)_
Rubrik: _quantumfiqihmuamalah_

๐Ÿ‡ง‌๐Ÿ‡จ‌๐Ÿ‡ถ‌๐Ÿ‡บ‌๐Ÿ‡ซ‌๐Ÿ‡ฎ‌

Konsultasi Syariah & Fiqih No. *336 -  Taubat Dari Mukhaddirat atau Narkoba dan Utangnya*

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
_Pertanyaan_
Assalamualaikum... 
☎ sy punya sdr dulu prnh punya utang hrg sabu2 sebesar 10 jt. Tp skrg dia sdh kena hidayah ( tobat). Namun pihak penjual dtg menagih dgn bukti kwitansi, namun jwbn sdr sy katakan dia tdk mau bayar krn itu haram. Jd pertanyaan sy jika dilihat dari hukum islam apakah sdr sy itu berdosa atau dia akan pertanggungjawabkan utangnya itu.... Mohon jawabannya, tidak apa2 ustadz sampaikan apa adanya, seperti kata hadits sampaikan kebenaran walau pahit… Wassalam

๐Ÿ“ Ditanyakan oleh *seseorang* pada _1 Januari 2020_

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Wa'alaikumussalam 
๐Ÿ“œ Suwaid bin Gafalah mengisahkan bahwa pada suatu hari Sahabat Bilal Radhiyallahu ‘anhu mengadukan kepada Amirul Mukminin perihal beberapa pegawainya yang memungut upeti dalam bentuk minuman khamar dan hewan babi. Mendapat laporan ini, segera Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu anhu mengeluarkan perintah,
ู„ุงَ ุชَุฃْ ุฎُุฐُูˆْุง ู…ِู†ْู‡ُู…ْ، ูˆَู„َูƒِู†ْ ูˆَู„َูˆู‡ู… ุจَูŠْุนَู‡َุง، ูˆَุฎُุฐُูˆْุง ุฃَู†ْุชُู…ْ ู…ِู†َ ุงู„ุซَّู…َู†ِ
“Janganlah kalian menerima upeti dalam bentuk khamar dan babi, namun biarkan mereka (orang Yahudi dan Nashrani yang tinggal di negeri Islam) memperjual belikannya kepada sesama mereka. Dan bila telah terjual, maka kalian boleh menerima uang hasil penjualannya.” *[Al-Amwal no. 115 li Abu 'Ubaid; Mushannaf ‘Abdurrazzaq 6/23, dan lainnya]*

♻ Berdasarkan sunnah' Umar bin Al-Khaththab ini maka sebuah transaksi yang halal hendaknya tidak dibayar dengan harta haram secara 'aini (dzat/esensi). Maka, bila kita sebagai muslim menjual sesuatu kepada kafir, kita dilarang menerima pembayaran dari kafir berupa sesuatu yang haram, kita hanya boleh menerima pembayaran dengan barang atau alat tukar yang netral, suci dan tidak haram' aini. 

๐Ÿšง Aktifitas jual beli sabu-sabu (termasuk mukhaddirat) untuk mabuk itu haram. Hasil jual beli, baik harga pokok maupun labanya juga haram. Sama haramnya dengan transaksi zina, judi (maisir), riba, ghulul (korupsi), dan lain-lain. 

๐Ÿ“บ Syaikh Shalih Al-Munajjid pernah dimintai fatwa oleh seseorang yang bertaubat dari transaksi ribawi, maka beliau menjawab, 
ูŠุญุฑู… ุงู„ุงู‚ุชุฑุงุถ ุจุงู„ุฑุจุง ، ูˆุนู„ู‰ ู…ู† ูˆู‚ุน ููŠ ุฐู„ูƒ ุฃู† ูŠุชูˆุจ ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ، ูˆู„ุง ูŠู„ุฒู…ู‡ ุฅู„ุง ุฑุฏ ุฑุฃุณ ุงู„ู…ุงู„ ، ูˆุฃู…ุง ุงู„ูุงุฆุฏุฉ ุงู„ุฑุจูˆูŠุฉ ูู„ุง ุชู„ุฒู…ู‡ ، ูˆู„ู‡ ุฃู† ูŠุญุชุงู„ ู„ุฅุณู‚ุงุทู‡ุง ูˆุนุฏู… ุฏูุนู‡ุง ، ู…ุง ู„ู… ูŠุชุฑุชุจ ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ู…ุถุฑุฉ ู„ู‡ .
“Diharamkan meminjam dengan cara riba. Siapa yang sudah terlanjur berbuat seperti itu, hendaknya dia bertaubat kepada Allah Ta'ala. *Dia hanya diwajibkan mengembalikan uang pokoknya saja. Adapun bunganya tidak diwajibkan kepadanya.* Dia dapat berupaya untuk menggugurkannya atau tidak membayarnya selama tidak menimbulkan bahaya baginya.”

๐ŸŽ Untuk utang riba, sekalipun kita sudah Taubat, kita tetap wajib melunasi utang pokoknya, namun tidak wajib melunasi bunganya. Karena yang haram kan bunganya, utang pokoknya kan termasuk utang biasa, jadi ya halal. Hanya baru kita wajib melunasi bunga bila ada potensi bahaya manakala kita tidak melunasi. Jadi statusnya mukrah (terpaksa). 

๐Ÿš’ Permasalahannya jual beli Mukhaddirat (narkoba) itu haram 'aini sekaligus haram transaksinya. Pertanyaan kami, Kira2 apa yang akan terjadi bila utang sabu2 tidak dibayar? Sabu2 tersebut dipakai sendiri atau dijual lagi? Sabu2 tersebut dipakai untuk pengobatan atau untuk mabuk2an? Pertanyaan2 ini mesti dijawab agar jelas duduk permasalahan. 

๐Ÿšœ Apa yang akan terjadi bila saudara Penanya melapor ke Ulil Amri (dalam hal ini polisi) agar pengedar sabu2 tersebut dihukum/dipenjara saja, sehingga tidak perlu melunasi utang 10 juta tersebut? Sebenarnya ini solusi paling baik, menurut kami. 

⛺ Sebab begini, sebenarnya melunasi utang itu wajib, utang barang haram tidak terlalu wajib dilunasi sekalipun kita sudah benar-benar Taubat dari barang haram tersebut. Kenapa tidak terlalu wajib? 

๐Ÿ• Begini, pernikahan yang terjadi pada masa jahiliyyah, sebelum Nabi diutus, adalah tetap berlaku, tidak otomatis cerai, tidak ada pasangan yang diharuskan aqad nikah ulang bila keduanya masuk Islam, dan nasab anaknya juga diakui. Pernikahan pada masa jahiliyyah kan pasti tidak sesuai syariat aqad nikah dalam Islam, meski bisa jadi Pasutri menikah dan beraqidah sesuai Aqidahnya Nabi 'Isa atau Nabi lainnya. 

๐Ÿง€ Fakta tersebut sebenarnya tidak terlalu bisa jadi bahan qiyas untuk menggali hukum orang Taubat dari Mukhaddirat namun masih punya utang kepada penjual Mukhaddirat. 

๐Ÿ… Hanya saja *jika dilunasi dimungkinkan malah membuat pemberi utang semakin lancar berjualan barang haram, maka sebaiknya berusaha untuk tidak melunasinya, asalkan aman*. Oleh karena itu, solusi saya, laporkan saja, untuk memutus mata rantai peredaran barang haram. 

๐Ÿ€ Kenapa jawaban kami terkesan tidak tegas? Mohon maaf,  perkara ini memang cukup rumit bagi kami, karena tidak ada jawaban yang tegas dalam Al-Quran maupun As-Sunnah, sependek pengetahuan kami. Karena itu, *jawaban tegasnya adalah, laporkan Ulil Amri!*

๐Ÿ“’ An Nawawi Asy Syafii mengatakan, “Menjual khamr adalah transaksi yang tidak sah baik penjualnya adalah muslim ataupun non muslim. Demikian pula meski penjual dan pembelinya non muslim ataupun seorang muslim mewakilkan kepada non muslim agar non muslim tersebut membelikan khamr untuk si muslim. Transaksi jual beli dalam semua kasus di atas adalah transaksi jual beli yang tidak sah tanpa ada perselisihan diantara para ulama syafi’iyyah... Jual beli khamr ataupun memproduksinya dan semisalnya adalah suatu hal yang hukumnya haram dilakukan non muslim sebagaimana haram dilakukan oleh muslim. Demikianlah Madzhab Syafi’i.” *[Majmu Syarh Al Muhadzdzab, 9/227, Syamil ah]*

๐Ÿ’Ž Demikian. Ala kulli hal, kami sampaikan selamat atas karunia pertaubatan dari Allรขh. Semangat! Hanya saja, *hidup di dunia itu tidak akan pernah yang namanya selalu enak-enak saja* sekalipun kita berislam karena Allah ingin kita menjadi pemenang bukan pecundang. 

๐Ÿ“ Dijawab oleh *UBER* (Ustadz H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.)
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
๐Ÿ“บ Follow aneka medsos kami di kontakk.com/@quantumfiqih

๐ŸŒธ Telah dibuka *GUDANG KITAB SUCI* menjual lebih dari 73 varian produk terbitan Al-Qur`an dengan stok melimpah. Kepoin Instagram @gudangkitabsucialquran atau langsung order via https://wa.me/6282140888638?text=Assalamu%27alaikum

Rabu, 01 Januari 2020

Apakah Allah Menerima Infaq Atas Nama Janin Jabang Bayi Yang Belum Lahir dan Badal Haji Untuk Orang Yang Tidak Wajib Haji Hingga Wafat | Konsultasi Syariah dan Fiqih (KASYAF) | Ust. H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.


๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ

๐Ÿ‡ฎ ๐Ÿ‡ณ ๐Ÿ‡ซ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ถ  ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡น ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ธ  
๐Ÿ‡ณ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ฒ ๐Ÿ‡ฆ  ๐Ÿ‡ฏ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ณ ๐Ÿ‡ฎ ๐Ÿ‡ณ   
๐Ÿ‡ง ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ฉ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ฑ  ๐Ÿ‡ญ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ฏ ๐Ÿ‡ฎ  
๐Ÿ‡บ ๐Ÿ‡ณ ๐Ÿ‡น ๐Ÿ‡บ ๐Ÿ‡ฐ  ๐Ÿ‡ด ๐Ÿ‡ท ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ณ ๐Ÿ‡ฌ  
๐Ÿ‡พ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ณ ๐Ÿ‡ฌ  ๐Ÿ‡น ๐Ÿ‡ฎ ๐Ÿ‡ฉ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ฐ  
๐Ÿ‡ผ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ฏ ๐Ÿ‡ฎ ๐Ÿ‡ง  ๐Ÿ‡ญ ๐Ÿ‡ฆ ๐Ÿ‡ฏ ๐Ÿ‡ฎ 

๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ

#⃣ #broadcastquantumfiqih
No.: KS/1/I/20/QUFI
Topik: 1⃣ _Konsultasi Syariah & Fiqih (KASYAF)_
Rubrik: _quantumfiqihibadah_

๐Ÿ‡ง‌๐Ÿ‡จ‌๐Ÿ‡ถ‌๐Ÿ‡บ‌๐Ÿ‡ซ‌๐Ÿ‡ฎ‌

Konsultasi Syariah & Fiqih No. *337 - Infaq Atas Nama Janin & Badal Haji untuk Orang yang Tidak Wajib Haji*

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
_Pertanyaan_
1⃣ 1. Boleh infak ke masjid atas nama bayi yg ada dikandungan. 
2⃣ 2. Mana yg faidahnya lebih banyak infak ke buat pembangunan masjid at badal haji bagi orang yg meninggal dunia ... mengingat badal haji biaya nya besar… Kalau belum kena kewajiban haji karena belum mampu d anak d cucunya mampu badal hajikan gmn ustadz .... mana yg didahulukan. Maaf jadi itung2 nga mau infak buat orang2 yg kita sayang yg sdh almarhum/almarhuma.

๐Ÿ“ Ditanyakan oleh Ibu *H. Sri S.* (+62 812-3010-794) dari Sidoarjo pada _30 Desember 2019_

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
_Jawaban_
๐Ÿก Pertanyaan pertama, jawabannya, belum boleh, baik Shadaqah sunnah atau Shadaqah wajib yaitu zakat fithri. Sebab yang dicatat pahala dari manusia adalah ketika sudah terlahir, bahkan baru dicatat sebagai amal shalihnya apabila sudah Baligh. 

๐ŸŽช Kalaupun ingin berinfaq, atas nama ibu yang sedang mengandung saja, lalu disertai doa minta keselamatan buat jabang bayi dan ibu, disertai tawassul. 

๐Ÿฅฏ Jawaban pertama tersebut mengikuti kesimpulan madzhab Syafi'i. Kalau mengikuti kesimpulan madzhab Hanbali, maka boleh berinfaq atas nama janin, namun catatan pahalanya diterima oleh orang tuanya. 

๐ŸŒธ Untuk menjawab masalah dalam ranah ghaib ini tentu kita tidak bisa bermudah-mudahan meski hal yang nampaknya sepele. Sebab bicara diterima atau tidaknya sebuah amal oleh Allรขh berarti berbicara tentang perbuatan Allรขh, ya kan? Kita tidak boleh asal cuap-cuap tentang Allah sedikitpun. Kita harus punya ilmu. Ilmu tentang hal ini bisa kita pelajari dari penjelasan para ulama. 

๐Ÿ“š Dalam Al-Fatawa Al-Hindiyah –kumpulan fatwa madzhab Hanafi– dinyatakan,
ูˆَู„َุง ูŠُุคَุฏِّูŠ ุนَู†ْ ุงู„ْุฌَู†ِูŠู†ِ ؛ ู„ِุฃَู†َّู‡ُ ู„َุง ูŠَุนْุฑِูُ ุญَูŠَุงุชَู‡ُ ู‡َูƒَุฐَุง ูِูŠ ุงู„ุณِّุฑَุงุฌِ ุงู„ْูˆَู‡َّุงุฌِ
“Tidak wajib ditunaikan zakat fithri untuk jabang bayi, karena belum bisa dipastikan hidupnya. Demikian keterangan dalam Siraj Wahhaj.” *[Fatawa Hindiyah, 5/166]*

๐Ÿ“š Hal yang sama juga disampaikan oleh Imam Malik. Dalam Al-Mudawwanah beliau menegaskan,
ู„ุง ุชุคุฏู‰ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ุนู† ุงู„ุญุจู„، ูˆุฅู† ูˆู„ุฏ ู„ู‡ ูŠูˆู… ุงู„ูุทุฑ ุฃูˆ ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ูุทุฑ ูุนู„ูŠู‡ ููŠู‡ ุงู„ุฒูƒุงุฉ
“Tidak wajib ditunaikan zakat fithri untuk bayi yang ada dalam kandungan. Namun jika dia terlahir pada hari idul fitri atau malam hari raya maka ayahnya berkewajiban membayarkan zakat untuk anaknya.” *[Al-Mudawanah Al-Kubra, 1/388]*

๐Ÿ“š Imam An-Nawawi menuturkan, 
ู„ุง ุชุฌุจ ูุทุฑุฉ ุงู„ุฌู†ูŠู† ู„ุงุนู„ูŠ ุฃุจูŠู‡ ูˆู„ุง ููŠ ู…ุงู„ู‡ ุจู„ุง ุฎู„ุงู ุนู†ุฏู†ุง ูˆู„ูˆ ุฎุฑุฌ ุจุนุถู‡ ู‚ุจู„ ุบุฑูˆุจ ุงู„ุดู…ุณ ูˆุจุนุถู‡ ุจุนุฏ ุบุฑูˆุจู‡ุง ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ูุทุฑ ู„ู… ุชุฌุจ ูุทุฑุชู‡ ู„ุงู†ู‡ ููŠ ุญูƒู… ุงู„ุฌู†ูŠู† ู…ุง ู„ู… ูŠูƒู…ู„ ุฎุฑูˆุฌู‡ ู…ู†ูุตู„ุง
“Tidak wajib zakat fithri untuk janin, bukan kewajiban bapaknya, juga tidak perlu diambilkan dari harta si janin, tanpa ada perselisihan dalam madzhab Syafiiyah. Jika sebelum matahari terbenam badan bayi sudah keluar sebagian, sementara sebagian lagi baru keluar setelah matahari terbenam di malam idul fithri, maka tidak wajib dibayarkan zakat fitrahnya. Karena dia masih dihukumi janin, selama belum keluar utuh.” *[Al-Majmu’, 6/139]*

๐Ÿ“’ Dalam Madzhab Hanabilah, tetap sah dan diterima oleh Allรขh zakat atas nama janin, bahkan wajib, Ibnu Qudamah menyebutkan,
ูˆุนู† ุฃุญู…ุฏ، ุฑูˆุงูŠุฉ ุฃุฎุฑู‰ ุฃู†ู‡ุง ุชุฌุจ ุนู„ูŠู‡؛ ู„ุฃู†ู‡ ุขุฏู…ูŠ، ุชุตุญ ุงู„ูˆุตูŠุฉ ู„ู‡، ูˆุจู‡ ูˆูŠุฑุซ ููŠุฏุฎู„ ููŠ ุนู…ูˆู… ุงู„ุฃุฎุจุงุฑ، ูˆูŠู‚ุงุณ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ูˆู„ูˆุฏ
Dari Al-Imam Ahmad, dalam salah satu riwayat lainnya, bahwa zakat fithri untuk janin hukumnya wajib. Karena janin termasuk manusia, boleh menerima wasiat, bisa menerima warisan. Sehingga dia masuk dalam keumuman hadis tentang zakat fitrah, dan juga diqiyaskan dengan bayi yang sudah lahir. *[Al-Mughni, 3/99]*

๐Ÿ“œ Keterangan ini sejatinya merupakan riwayat dari sebagian sahabat Rasulullah. Mereka berpendapat wajib menunaikan zakat fithri, jika janin sudah berusia 4 bulan dalam kandungan. Sebagaimana keterangan Ibnul Mulaqqin,
ูˆู†ู‚ู„ ู‚ูˆู… ุนู† ุงู„ุณู„ู ุฃู†ู‡ ุฅุฐุง ูƒู…ู„ ุงู„ุฌู†ูŠู† ููŠ ุจุทู† ุฃู…ู‡ ุฃุฑุจุนุฉ ุฃุดู‡ุฑ ู‚ุจู„ ุงู„ูุฌุฑ ูˆุฌุจ ุงู„ุฅุฎุฑุงุฌ ุนู†ู‡، ูˆุฅู†ู…ุง ุฎุต ุงู„ุฃุฑุจุนุฉ ุฃุดู‡ุฑ ุจุฐู„ูƒ ู„ู„ุงุนุชู…ุงุฏ ุนู„ู‰ ุญุฏูŠุซ ุงุจู† ู…ุณุนูˆุฏ ุฃู† ุงู„ุฎู„ู‚ ูŠุฌู…ุน ููŠ ุจุทู† ุฃู…ู‡ ุฃุฑุจุนูŠู† ูŠูˆู…ุง
“Terdapat keterangan dari sebagian sahabat, jika janin sudah genap usia 4 bulan dalam kandungan, sebelum Shubuh hari raya, maka wajib dibayarkan zakat fitrahnya. Mereka menjadikan 4 bulan sebagai batas, bersandar dengan hadits Ibnu Mas’ud bahwa penciptaan manusia dalam rahim ibunya selama 40 hari dalam bentuk nutfah… hingga ditiupkan ruh setelah berusia 120 hari.” *[Al-I’lam bi Fawaid Umdah Al-Ahkam, 3/57]*

๐Ÿ“’ Sementara itu, dalam riwayat lain, Al-Imam Ahmad berpendapat, dianjurkan membayar zakat fitrah untuk janin. Beliau berdalil dengan praktek Khalifah Utsman bin Affan, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat dari Qatadah,
ุฃู† ุนุซู…ุงู† ูƒุงู† ูŠุนุทูŠ ุตุฏู‚ุฉ ุงู„ูุทุฑ ุนู† ุงู„ุตุบูŠุฑ ูˆุงู„ูƒุจูŠุฑ ูˆุงู„ุญู…ู„
Bahwa Utsman radhiyallahu ‘anhu membayar zakat fithri untuk anak-anak, orang dewasa, dan bayi yang masih di kandungan. *[Masail Abdullah bin Ahmad hlm. 170]* 

๐Ÿ“’ Demikian juga riwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau mengatakan, 
ูƒَุงู†ُูˆุง ูŠُุนْุทُูˆู†َ ุตَุฏَู‚َุฉَ ุงู„ْูِุทْุฑِ ุญَุชَّู‰ ูŠُุนْุทُูˆู†َ ุนَู†ِ ุงู„ْุญَุจَู„ِ
Mereka (sebagian sahabat) membayar zakat fithri, sampai mereka bayarkan zakat untuk janin. *[Musnad Ibnu Abi syaibah 10738 & Musnad Abdurrazzaq 5788]*

๐Ÿ“’ Sulaiman bin Yasar pernah ditanya, apakah zakat fithri juga ditunaikan untuk bayi yang ada dalam kandungan? Jawab Beliau, “Ya”. *[Mushannaf Abdurrazzaq no. 5790]*

๐ŸŒŽ Penjelasan-penjelasan ulama yang saya kutip adalah berkaitan dengan zakat. Apakah bisa digunakan untuk menjelaskan hukum terkait infaq? Bisa. Zakat itu bersifat wajib, infaq itu sunnah (anjuran). Itu saja bedanya. 

๐Ÿ‡ Walhasil, panjang lebar uraian di atas menjadi keterangan tegas bahwa Ibu Hj. Sri boleh berinfaq atas nama bayi yang sedang dalam kandungan, tapi zaman sekarang masih belum masyhur (populer alias viral), yang masyhur infaq atas nama orang yang sudah wafat. *Maka lebih aman, berinfaq atas nama orang tuanya, lalu diiringi doa dan tawassul untuk keselamatan jabang bayi dan orang tuanya.*

๐Ÿ•ฐ Jawaban pertanyaan kedua, lebih utama badal haji apabila orang yang meninggal tersebut saat hidup sudah kena kewajiban haji. masih lebih utama badal haji daripada infaq atas nama almarhum. Sebab, prinsip umum agama kita,
ุงู† ู„ูƒ ู…ู† ุงู„ุงุฌุฑ ุนู„ู‰ ู‚ุฏุฑ ู†ุตุจูƒ
Sebuah amaliyah semakin unggul bila semakin berat

๐Ÿ’ณ Tidak apa-apa bu, kita berhitung pahala, bukan berhitung karena pelit, justru kita harus cerdas dalam memaksimalkan keadaan agar bisa meraup banyak pahala. Tapi ingat, kita pun harus cerdas dalam beramal. 

๐Ÿ… Asal tahu, ada sekelompok kecil orang yang menawarkan jasa badal haji namun dia tidak amanah. Kalau badal hajinya yang tidak sah, biasanya hanya 5 Juta rupiah, rahasianya, pelaku badal haji dalam satu kali haji membadalkan beberapa orang, itu haram secara syariat dan fiqih. 

๐Ÿ’ Kalau badal hajinya yang sah, rata-rata berkisar 10 smp 11 juta rupiah Bu, dan itu dilakukan oleh ustadz yang tinggal di Makkah, sehingga mereka butuh biaya perjalanan dari rumahnya di sana menuju Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Arafah, Mina, tempat tinggal, ngurus pajak, surat-surat izin, makan, dll. Biasanya, orang yang dibadal hajikan mendapatkan zamzam, sajadah & piagam.

๐Ÿ“ Dijawab oleh *UBER* (Ustadz H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.)
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
๐Ÿ“บ Follow aneka medsos kami di kontakk.com/@quantumfiqih

๐ŸŒธ Telah dibuka *GUDANG KITAB SUCI* menjual lebih dari 73 varian produk terbitan Al-Qur`an dengan stok melimpah. Kepoin Instagram @gudangkitabsucialquran atau langsung order via https://wa.me/6282140888638?text=Assalamu%27alaikum

Mencari Jawaban Hasil Shalat Istikharah Dengan Melacak Kandungan Makna Ayat Suci Al-Qur'an yang Dicari Secara Acak Pada Mushaf | Konsultasi Syariah dan Fiqih (KASYAF) | Ust. H. Brilly El-Rasheed, S.Pd.


Sangat dimungkinkan adanya ayat tertentu yang turun khusus untuk menjawab persoalan yang melibatkan orang-orang tertentu.

Misalnya, ada ayat yang turun untuk membenarkan pendapat (ijtihad) Umar bin Al-Khaththab. Yaitu surat Al-Anfal ayat 67: Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki akhirat. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Anfal: 67)

Latar belakang turunnya ayat ini adalah musyawarah dan dengar pendapat yang digelar Rasulullah terkait dengan tawanan perang Badar. Beliau dan sebagian besar shahabat cenderung perpendapat bahwa sebaiknya musyrikin Makkah itu tidak dibunuh, tetapi ditawan saja untuk dimintai tebusan dari keluarganya. Sedangkan Umar cenderung untuk menghabisi nyawa mereka. Ketika keputusan telah diambil dan pendapat Umar 'kalah' suara, tiba-tiba turunlah ayat ini yang membenarkan pendapat Umar.

Maka turunnya ayat ini menjadi petunjuk bagi Rasulullah untuk membenarkan pendapat Umar dan mencabut kembali ijtihadnya sendiri.

Namun sekarang ini Al-Quran sudah tidak turun lagi dari langit, sehingga tidak ada lagi kasus per kasus yang dipecahkan dengan cara menanti turunnya ayat Al-Quran.

Adapun menggunakan ayat Al-Quran dengan cara acak, jelas tidak bisa dibenarkan. Sebab belum tentu ayat itu tepat untuk menjawab suatu masalah. Bahkan boleh jadi malah sama sekali tidak 'nyambung' antara masalah yang ingin dipecahkan dengan ayat yang didapat secara random itu. Kalau hal ini dipaksakan juga, kita telah berdosa kepada Al-Quran. Sebab telah menyelewengkan penggunaannya dengan cara yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan.

Demikian jawaban Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc. MA. dalam https://www.rumahfiqih.com/konsultasi-1167562015-jawaban-istikharah-dari-al-quran.html. 

ุงู„ุฃุฎุฐ ู…ู† ุงู„ู…ุตุญู ู…ุญุฑู… ุนู†ุฏ ุฌู…ุงุนุฉ ู…ู† ุงู„ุนู„ู…ุงุก ู„ุฃู†ู‡ ู…ู† ุจุงุจ ุงู„ุงุณุชู‚ุณุงู… ุจุงู„ุฃุฒู„ุงู… .

ู‚ุงู„ ุงู„ู‚ุฑุงููŠ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ : " ูˆุฃู…ุง ุงู„ูุฃู„ ุงู„ุญุฑุงู… ูู‚ุฏ ู‚ุงู„ ุงู„ุทุฑุทูˆุดูŠ ููŠ ุชุนู„ูŠู‚ู‡ ุฅู† ุฃุฎุฐ : ุงู„ูุฃู„ ู…ู† ุงู„ู…ุตุญู ูˆุถุฑุจ ุงู„ุฑู…ู„ ูˆุงู„ู‚ุฑุนุฉ ูˆุงู„ุถุฑุจ ุจุงู„ุดุนูŠุฑ ูˆุฌู…ูŠุน ู‡ุฐุง ุงู„ู†ูˆุน ุญุฑุงู… ; ู„ุฃู†ู‡ ู…ู† ุจุงุจ ุงู„ุงุณุชู‚ุณุงู… ุจุงู„ุฃุฒู„ุงู… . ูˆุงู„ุฃุฒู„ุงู… ุฃุนูˆุงุฏ ูƒุงู†ุช ููŠ ุงู„ุฌุงู‡ู„ูŠุฉ ู…ูƒุชูˆุจ ุนู„ู‰ ุฃุญุฏู‡ู…ุง ุงูุนู„ ูˆุนู„ู‰ ุงู„ุขุฎุฑ ู„ุง ุชูุนู„ ูˆุนู„ู‰ ุงู„ุขุฎุฑ ุบูู„ ููŠุฎุฑุฌ ุฃุญุฏู‡ุง , ูุฅู† ูˆุฌุฏ ุนู„ูŠู‡ ุงูุนู„ ุฃู‚ุฏู… ุนู„ู‰ ุญุงุฌุชู‡ ุงู„ุชูŠ ูŠู‚ุตุฏู‡ุง ุฃูˆ ู„ุง ุชูุนู„ ุฃุนุฑุถ ุนู†ู‡ุง ูˆุงุนุชู‚ุฏ ุฃู†ู‡ุง ุฐู…ูŠู…ุฉ , ุฃูˆ ุฎุฑุฌ ุงู„ู…ูƒุชูˆุจ ุนู„ูŠู‡ ุบูู„ ุฃุนุงุฏ ุงู„ุถุฑุจ ูู‡ูˆ ูŠุทู„ุจ ู‚ุณู…ู‡ ู…ู† ุงู„ุบูŠุจ ุจุชู„ูƒ ุงู„ุฃุนูˆุงุฏ ูู‡ูˆ ุงุณุชู‚ุณุงู… ุฃูŠ ุทู„ุจ ุงู„ู‚ุณู… ، ุงู„ุฌูŠّุฏ ูŠุชุจุนู‡ , ูˆุงู„ุฑุฏูŠุก ูŠุชุฑูƒู‡ , ูˆูƒุฐู„ูƒ ู…ู† ุฃุฎุฐ ุงู„ูุฃู„ ู…ู† ุงู„ู…ุตุญู ุฃูˆ ุบูŠุฑู‡ ุฅู†ู…ุง ูŠุนุชู‚ุฏ ู‡ุฐุง  ุงู„ู…ู‚ุตุฏ ุฅู† ุฎุฑุฌ ุฌูŠุฏุง ุงุชุจุนู‡ ุฃูˆ ุฑุฏูŠุฆุง ุงุฌุชู†ุจู‡ ، ูู‡ูˆ ุนูŠู† ุงู„ุงุณุชู‚ุณุงู… ุจุงู„ุฃุฒู„ุงู… ุงู„ุฐูŠ ูˆุฑุฏ ุงู„ู‚ุฑุขู† ุจุชุญุฑูŠู…ู‡ ููŠุญุฑู… ." ุงู†ุชู‡ู‰ ู…ู† "ุงู„ูุฑูˆู‚" (4/ 240).

Mengambil (nasib baik) dari mushaf  termasuk diharamkan oleh sekelompok kalangan para ulama’ karena hal itu termasuk mengundi nasib dengan anak panah. Kata ‘azlam’ adalah anak panah waktu jahiliyah ditulis salah satunya lakukan dan yang lain jangan lakukan, sementara satu lagi tidak ditulis apa-apa. Kemudian dikeluarkan salah satunya, kalau yang keluar lakukan, maka dilanjutkan keperluannya yang diinginkannya. Kalau jangan lakukan, maka tidak jadi melakukannya dan diyakini hal itu jelek. Atau keluar yang tidak ada tulisan apa-apa, maka diulangi lagi pengambilannya. Dia menginginkan bagiannya dari perkara ghaib dengan anak panah ini. Yaitu dia meminta bagian (nasib). Kalau baik, diikutinya. Kalau jelek ditinggalkannya. Begitu juga orang yang mengambil nasib baik dari mushaf atau lainnya. Sesungguhnya dia meyakini kalau keluar baik, maka diikutinya atau kalau keluar jelek, ditinggalkannya. Ini benar-benar mengundi nasib dengan anak panah. Yang mana di Al-Qur’an telah ada pelarangannya, maka diharamkan.” [Al-Furuq, 4/240] 

ุงุณุชุฎุฑุงุฌ ุงู„ูุฃู„ ู…ู† ุงู„ู…ุตุญู ูุฅู†ู‡ ู†ูˆุน ู…ู† ุงู„ุงุณุชู‚ุณุงู… ุจุงู„ุฃุฒู„ุงู… , ูˆู„ุฃู†ู‡ ู‚ุฏ ูŠุฎุฑุฌ ู„ู‡ ู…ุง ู„ุง ูŠุฑูŠุฏ ููŠุคุฏูŠ ุฐู„ูƒ ุฅู„ู‰ ุงู„ุชุดุงุคู… ุจุงู„ู‚ุฑุขู† , ูู…ู† ุฃุฑุงุฏ ุฃู…ุฑุง ูˆุณู…ุน ู…ุง ูŠุณูˆุก ู„ุง ูŠุฑุฌุน ุนู† ุฃู…ุฑู‡ ูˆู„ูŠู‚ู„ : ุงู„ู„ู‡ู… ู„ุง ูŠุฃุชูŠ ุจุงู„ุฎูŠุฑ ุฅู„ุง ุฃู†ุช , ูˆู„ุง ูŠุฃุชูŠ ุจุงู„ุดุฑ ุฃูˆ ู„ุง ูŠุฏูุน ุงู„ุดุฑ ุฅู„ุง ุฃู†ุช " ุงู†ุชู‡ู‰ ู…ู† "ุงู„ููˆุงูƒู‡ ุงู„ุฏูˆุงู†ูŠ" (2/ 342).

Mengeluarkan nasib baik dari mushaf karena hal itu termasuk mengundi nasib dengan panah. Karena terkadang keluar dari apa yang tidak diinginkannya, sehingga hal itu menganggap jelek dengan Al-Qur’an. Kalau dia menginginkan suatu perkara dan mendengar sesuatu yang jelek, jangan kembali dari urusannya dan hendaknya dia mengatakan, “Ya Allah tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Anda. Dan tidak ada yang dapat mendatangkan kejelekan atau menolak kejelekan kecuali Anda.” [Al-Fawakih Ad-Dawani, 2/342] 

ูุชุจูŠู† ุจู‡ุฐุง ุฃู† ุฃุฎุฐ ุงู„ูุฃู„ ู…ู† ุงู„ู…ุตุญู ุฃูŠ ูุชุญู‡ ูˆุงู„ู†ุธุฑ ููŠู…ุง ูŠุฎุฑุฌ ، ูˆุจู†ุงุก ุงู„ุชุตุฑู ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ، ู…ุญุฑู… ، ูˆู‡ูˆ ู…ู† ุงู„ุงุณุชู‚ุณุงู… ุจุงู„ุฃุฒู„ุงู… ، ุจุฎู„ุงู ุงู„ูุฃู„ ุงู„ุญุณู† ุงู„ุฐูŠ ูŠุฃุชูŠ ุจุนุฏ ู…ุจุงุดุฑุฉ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ู„ู„ุนู…ู„ ، ููŠุณู…ุน ูƒู„ู…ุฉ ุญุณู†ุฉ ุฏูˆู† ู‚ุตุฏ ูˆู„ุง ุจุญุซ .

Dari sini telah jelas, bahwa mengambil nasib baik (fa’lu) dari mushaf dengan membuka dan melihat apa yang akan keluar dan melakukan perbuatan diambil darinya itu diharamkan. Karena itu termasuk mengundi nasib dengan panah. Berbeda dengan fa’lu (nasib baik) yang datang setelah seseorang melakukan amalan secara langsung. Kemudian dia mendengarkan kata-kata baik tanpa ada maksud dan pencarian. [https://islamqa.info/ar/answers/145596] 

Dua Belas Kampus Perguruan Tinggi Dengan Fokus Ilmu Al-Qur'an di Indonesia


Kampus pertama, Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ)
Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qura’an berdiri pada  1971 atas gagasan dan kerjasama tiga orang tokoh, yaitu K.H. Mohammad Dahlan (Menteri Agama 1967-1971), Prof. K.H. Ibrahim Hosen, dan K.H. Ahmad Zaini Miftah (Imam Besar Masjid Istiqlal), seperti dikutip Ptiq.ac.id. PTIQ merupakan perguruan tinggi pertama di dunia yang memfokuskan pada hafalan dan kajian Alquran. Bahkan, dua tahun setelah berdirinya PTIQ, Universitas Islam Madinah terinspirasi untuk membuka fakultas khusus Ilmu Al-Qur'an.

Kampus kedua, Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ)
Enam tahun setelah PTIQ berdiri, seperti dikutip dari Iiq.ac.id, Institut Ilmu Al-Qur’an yang berada tepat di seberang UIN Syarif Hidayatullah Jakarta didirikan pada taun 1977 oleh Yayasan Affan, yang diketuai Sulaiman Affan. Pada awal berdirinya, IIQ membuka Program Magister khusus untuk wanita. Program strata satu justru baru didirikan pada tahun 1982.

Kampus ketiga, Universitas Sains Al-Quran (UNSIQ)
Berdirinya Universitas Sains Al-Quran pada tahun 2001 tidak dapat mengabaikan peran K.H. Muntaha Al-Hafizh, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Asy’ariyyah Kalibeber, Mojotengah, Wonosobo, seperti dikutip dari Unsiq.ac.id. Saat ini, UNSIQ memiliki 7 fakultas, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Fakultas Komunikasi dan Sosial Politik, Fakultas Syariah dan Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Fakultas Bahasa dan Sastra, dan Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, serta Program Pascasarjana.

Kampus keempat, Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ) Al-Hikam
Sosok K.H. Hasyim Muzadi berperan penting atas berdirinya Sekolah Tinggi Kulliyatul Qura’an (STKQ) pada tahun 2010. STKQ Al-Hikam ini, terletak di jalan H Amat N0 21 Kukusan Beji Depok, Jawa Barat, seperti dikutip dari Detik.com. Kampus ini terletak persis di belakang Fakultas Teknik Universitas Indonesia. STKQ memiliki pola belajar yang terdiri dari murajaah (mengulang hafalan Alquran), dirasah (kajian), dan tanmiyah (kursus dengan materi seperti wawasan kebangsaan, teknologi informasi, dan kewirausahaan), sebagaimana dikutip dari Kompas.com.

Kampus kelima, Sekolah Tinggi Al-Quran Ar-Rahman.

Kampus keenam, Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains Al-Islah (STIQSI)

Kampus ketujuh, Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Nurul Islam (STIQNIS)

Kampus kedelapan, Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an An-Nur.

Kampus kesembilan, Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Amuntai. 

Kampus kesepuluh, Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Kepulauan Riau. 

Kampus kesebelas, Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Situbondo. 

Kampus Keduabelas, Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Bima. 

Kampus Ketigabelas, Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Al-Lathifiyyah Palembang.